Sunday, July 17, 2016

Ketahui - 31 Hak Anak Yang Harus Kita Penuhi


Pernah dengar kisah si balita yang di umur belianya sudah menjadi perokok?
Atau kisah tentang seorang anak yang dipaksa menjadi 'budak' seksual di tempat lokalisasi?
Atau pernahkah sahabat melihat anak-anak yang bekerja serabutan, menjual koran dipinggir jalan raya, atau menjadi buruh kasar?


Bagaimana menurut sahabat?
Pantaskah mereka mendapatkan hidup seperti itu?

Bila sahabat menjawab tidak pantas, maka sahabat telah memilih sikap yang sama dengan aku dan jutaan orang lainnya di dunia. Akan tetapi, sebuah sikap tentu takkan pernah cukup tanpa dibarengi dengan tindakan yang nyata. Faktanya zaman sekarang, bumi belumlah menjadi tempat yang baik bagi tumbuh kembang anak.

Tak perlu jauh-jauh, disekitaran lingkungan kita pun mungkin kita akan melihat pemandangan miris bagaimana seorang anak tak mampu hidup selayaknya seorang anak akibat kerasnya kehidupan yang tak kenal ampun.

Oleh karenanya lah, agar tercipta lingkungan yang nyaman serta kehidupan yang layak bagi setiap generasi muda, pemerintah telah menetapkan 31 Hak Anak. Ditetapkan berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Anak No 23 Tahun 2002, inilah 31 Anak Yang Harus Kita Penuhi



Setiap Anak Berhak Untuk :
1. Bermain

2. Berkreasi

3. Berpartisipasi

4. Berhubungan dengan Orang Tua bila Terpisahkan

5. Beribadah Sesuai Ajaran Agamanya

6. Berkumpul

7. Berserikat 

8. Hidup Bersama Orang Tuanya 

9. Mendapakan Kelangsungan Hidup, Tumbuh dan Berkembang


Setiap Anak Berhak Untuk Mendapatkan :

10. Nama

11. Identitas

12. Kewarganegaraan

13 Pendidikan

14. Informasi

15. Standar Kesehatan yang Paling Tinggi

16. Standar Hidup yang Layak

 

Setiap Anak Berhak Untuk Mendapatkan Perlindungan :

17. Pribadi

18. Dari Tindakan Penangkapan Sewenang-Wenang

19. Dari Perampasan Kebebasan

20. Dari Perlakuan Kejam, Hukuman dan Perlakuan Tidak Manusiawi Lainnya

21. Dari Siksaan Fisik Maupun Non Fisik

22. Dari Penculikan, Penjualan dan Perdagangan (Human Traffiking)

23. Dari Eksploitasi dan Kegunaan Seksual

24. Dari Penyalahgunaan Obat-Obatan Terlarang

25. Dari Eksploitasi Sebagai Pekerja Anak

26. Dari Eksploitasi Sebagai Kelompok Minoritas

27. Dari Lingkungan atau Keadaan yang Tidak Layak Dilihat Anak

28. Khusus, dari Situasi Genting dan Darurat

29. Khusus, sebagai Pengungsi, Orang yang Terusir dan Tergusur

30, Khusus, jika Mengalami Konflik Hukum

31, Khusus, dalam Konflik Bersenjata atau Konflik Sosial


--------------------------------

Lalu apa yang harus kita lakukan sebagai orang dewasa dan terutama sebagai orangtua?
Simpel.
Penuhi hak mereka.
Dan jadikan bumi ini menjadi tempat yang indah bagi mereka menjalani hidup.    

Sunday, July 10, 2016

Setelah Ramadhan Berlalu


Tidak terasa, waktu begitu cepat berlalu, dan bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan dan keutamaan berlalu sudah. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang celaka karena tidak mendapatkan pengampunan dari Allah Ta’ala selama bulan Ramadhan, sebagaimana yang tersebut dalam doa yang diucapkan oleh malaikat Jibril ‘alaihissalam dan diamini oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni (oleh Allah Ta’ala )”. Salah seorang ulama salaf berkata: “Barangsiapa yang tidak diampuni dosa-dosanya di bulan Ramadhan maka tidak akan diampuni dosa-dosanya di bulan-bulan lainnya”.

Oleh karena itu, mohonlah dengan sungguh-sungguh kepada Allah Ta’ala agar Dia menerima amal kebaikan kita di bulan yang penuh berkah ini dan mengabulkan segala doa dan permohonan ampun kita kepada-Nya, sebagaimana sebelum datangnya bulan Ramadhan kita berdoa kepada-Nya agar Allah Ta’ala  mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dalam keadaan hati kita kita dipenuhi dengan keimanan dan pengharapan akan ridha-Nya. Imam Mu’alla bin al-Fadhl berkata: “Dulunya (para salaf) berdoa kepada Allah Ta’ala (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal shalih) yang mereka (kerjakan)”.

Lalu muncul satu pertanyaan besar dengan sendirinya:
Apa yang tertinggal dalam diri kita setelah Ramadhan berlalu? Bekas-bekas kebaikan apa yang terlihat pada diri kita? 
Apakah bekas-bekas itu hilang seiring dengan berlalunya bulan itu? Apakah amal-amal kebaikan yang terbiasa kita kerjakan di bulan itu pudar setelah puasa berakhir?

Jawabannya ada pada kisah berikut ini:

Imam Bisyr bin al-Harits al-Hafi pernah ditanya tentang orang-orang yang (hanya) rajin dan sungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadhan, maka beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang sangat buruk, (karena) mereka tidak mengenal hak Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan, (hamba Allah) yang shaleh adalah orang yang rajin dan sungguh-sungguh beribadah dalam setahun penuh”.

Demi Allah, inilah hamba Allah Ta’ala  yang sejati, yang selalu menjadi hamba-Nya di setiap tempat dan waktu, bukan hanya di waktu dan tempat tertentu.
Imam Asy-Syibli pernah ditanya: Mana yang lebih utama, bulan Rajab atau bulan Sya’ban?" Maka beliau menjawab: “Jadilah kamu seorang Rabbani (hamba Allah Ta’ala  yang selalu beribadah kepada-Nya di setiap waktu dan tempat), dan janganlah kamu menjadi seorang Sya’bani (orang yang hanya beribadah kepada-Nya di bulan Sya’ban atau bulan tertentu lainnya)”.

Maka sebagaimana kita membutuhkan dan mengharapkan rahmat Allah Ta’ala di bulan Ramadhan, bukankah kita juga tetap membutuhkan dan mengharapkan rahmat-Nya di bulan-bulan lainnya? Bukankah kita semua termasuk dalam firman-Nya:

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيد}

Hai manusia, kalian semua butuh kepada (rahmat) Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS Faathir: 15).

Inilah makna istiqamah yang sesungguhnya dan inilah pertanda diterimanya amal shaleh seorang hamba. Imam Ibnu Rajab berkata: “Sesungguhnya Allah jika Dia menerima amal (kebaikan) seorang hamba maka Dia akan memberi taufik kepada hamba-Nya tersebut untuk beramal shaleh setelahnya, sebagaimana ucapan salah seorang dari mereka (ulama salaf): Ganjaran perbuatan baik adalah (taufik dari Allah Ta’ala  untuk melakukan) perbuatan baik setelahnya. Maka barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan, lalu dia mengerjakan amal kebaikan lagi setelahnya, maka itu merupakan pertanda diterimanya amal kebaikannya yang pertama (oleh Allah Ta’ala), sebagaimana barangsiapa yang mengerjakan amal kebakan, lalu dia dia mengerjakan perbuatan buruk (setelahnya), maka itu merupakan pertanda tertolak dan tidak diterimanya amal kebaikan tersebut”.

Oleh karena itulah, Allah Ta’ala  mensyariatkan puasa enam hari di bulan Syawwal, yang keutamannya sangat besar yaitu menjadikan puasa Ramadhan dan puasa enam hari di bulan Syawwal pahalanya seperti puasa setahun penuh, sebagaimana sabda Rasululah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawwal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh”.

Di samping itu juga untuk tujuan memenuhi keinginan hamba-hamba-Nya yang shaleh dan selalu rindu untuk mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan puasa dan ibadah-ibadah lainnya, karena mereka adalah orang-orang yang merasa gembira dengan mengerjakan ibadah puasa. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan (besar): kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia bertemu Allah”.

Inilah bentuk amal kebaikan yang paling dicintai oleh AllahTa’ala dan Rasul-Nya Shallallahu’alaihi Wasallam.

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: “Amal (ibadah) yang paling dicintai Allah Ta’ala  adalah amal yang paling terus-menerus dikerjakan meskipun sedikit”.

Ummul mu’minin ‘Aisyah Radhiallahu’anha berkata: “Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam jika mengerjakan suatu amal (kebaikan) maka beliau Shallallahu’alaihi Wasallam akan menetapinya”.
Inilah makna istiqamah setelah bulan Ramadhan, inilah tanda diterimanya amal-amal kebaikan kita di bulan yang berkah itu, maka silahkan menilai diri kita sendiri, apakah kita termasuk orang-orang yang beruntung dan diterima amal kebaikannya atau malah sebaliknya.

{فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الأبْصَارِ}

Maka ambillah pelajaran (dari semua ini), wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat” (QS al-Hasyr: 2).

Wassalam

Wednesday, July 6, 2016

Happy Eid Mubarak 1437 H

One day ago, I may observe you anxious waiting involving this day
One week ago, I saw you longing for that dusk to finish the actual day
One month ago, you had been there waiting for that Ramadhan to stand
And suitable one year ago, you had been beside me rejoicing upon the day of grande
It’s me your friend along with the remainder of my family
Wishing you an additional blessed Idul Fitri.


May allah honour us
Forgive us
Purify us
Accept our all ibadat and dua.
Elevate us
Inspire us
Envelope us along with His noor
Mercy and secure us


Wish you a Happy Eid

Wednesday, June 29, 2016

Tariq bin Ziyad - Sang Penakluk Andalusia


Salah satu pahlawan besar Islam yang banyak dikenang dan diingat orang adalah seorang panglima yang bernama Thariq bin Ziyad. Beliau adalah salah seorang panglima terbesar dalam sejarah Islam yang merupakan prajurit Kerajaan Umawiyah (Bani Umayyah). Setelah Musa bin Nushair membuka jalan pasukan Islam ke Eropa, Thariq bin Ziyad menyempurnakannya dengan menaklukkan Andalusia. Atas perintah Khalifah al-Walid bin Abdul Malik, Thariq membawa pasukan Islam menyeberangi selat Gibraltar menuju daratan Eropa dari sinilah sejarah bangsa Ifranji –sebutan untuk orang-orang Eropa- itu berubah.

Tulisan kali ini akan memaparkan kepada sahabat semua sedikit tentang perjalanan hidup Thariq bin Ziyad rahimahullah dan bagaimana upayanya menaklukkan tanah Andalusia.


Thariq bin Ziyad dilahirkan pada tahun 50 H atau 670 M di Kenchela, Aljazair, dari kabilah Nafzah. Ia bukanlah seorang Arab, akan tetapi seorang yang berasal dari kabilah Barbar yang tinggal di Maroko. Masa kecilnya sama seperti masa kecil kebanyakan umat Islam saat itu, ia belajar membaca dan menulis, juga menghafal surat-surat Alquran dan hadis-hadis.

Sebelum umat Islam menguasai Andalus, daratan Siberia itu dikuasai oleh seorang raja zalim yang dibenci oleh rakyatnya, yaitu Raja Roderick. Di sisi lain, berita tentang keadilan umat Islam masyhur di masyarakat seberang Selat Gibraltar ini. Oleh karena itu, orang-orang Andalusia sengaja meminta tolong dan memberi jalan kepada umat Islam untuk menngulingkan Roderick dan membebaskan mereka dari kezalimannya.

Segera setelah permintaan tersebut sampai kepada Thariq, ia langsung melapor kepada Musa bin Nushair untuk meminta izin membawa pasukan menuju Andalus. Kabar ini langsung disampaikan Musa kepada Khalifah al-Walid bin Abdul Malik dan beliau menyetujui melanjutkan ekspansi penaklukkan Andalus yang telah dirintis sebelumnya.


Pada bulan Juli 710 M, berangkatlah empat kapal laut yang membawa 500 orang pasukan terbaik umat Islam. Pasukan ini bertugas mempelajari bagaimana medan perang Andalusia, mereka sama sekali tidak melakukan kontak senjata dengan orang-orang Eropa. Setelah persiapan dirasa cukup dan kepastian kabar telah didapatkan, Thariq bin Ziyad membawa serta 7000 pasukan lainnya melintasi lautan menuju Andalusia.

Mendengar kedatangan kaum muslimin, Roderick yang tengah sibuk menghadapi pemberontak-pemberontak kecil di wilayahnya langsung mengalihkan perhatiannya kepada pasukan kaum muslimin. Ia kembali ke ibu kota Andalusia kala itu, Toledo, untuk mempersiapkan pasukannya menghadang serangan kaum muslimin. Roderick bersama 100.000 pasukan yang dibekali dengan peralatan perang lengkap segera berangkat ke Selatan menyambut kedatangan pasukan Thariq bin Ziyad.

Ketika Thariq bin Ziyad mengetahui bahwa Roderick membawa pasukan yang begitu besar, ia segera menghubungi Musa bin Nushair untuk meminta bantuan. Dikirimlah pasukan tambahan yang jumlahnya hanya 5000 orang.

Akhirnya pada 28 Ramadhan 92 H bertepatan dengan 18 Juli 711 M, bertemulah dua pasukan yang tidak berimbang ini di Medina Sidonia. Perang yang dahsyat pun berkecamuk selama delapan hari. Kaum muslimin dengan jumlahnya yang kecil tetap bertahan kokoh menghadapi hantaman orang-orang Visigoth pimpinan Roderick. Keimanan dan janji kemenangan atau syahid di jalan Allah telah memantapkan kaki-kaki mereka dan menyirnakan rasa takut dari dada-dada mereka. Di hari kedelapan, Allah pun memenangkan umat Islam atas bangsa Visigoth dan berakhirlah kekuasaan Roderick di tanah Andalusia.


Setelah perang besar yang dikenal dengan Perang Sidonia ini, pasukan muslim dengan mudah menaklukkan sisa-sisa wilayah Andalusia lainnya. Musa bin Nushair bersama Thariq bin Ziyad berhasil membawa pasukannya hingga ke perbatasan di Selatan Andalusia.

Musa bin Nushair dan Thariq bin Ziyad tidak hanya mengalahkan penguasa-penguasa zalim di Eropa, namun mereka berhasil menaklukkan hati masyarakat Eropa dengan memeluk Islam. Mereka berhasil menyampaikan pesan bahwa Islam adalah agama mulia dan memuliakan manusia. Manusia tidak lagi menghinakan diri mereka di hadapan sesama makhluk, kemuliaan hanya diukur dengan ketakwaan bukan dengan nasab, warna kulit, status sosial, dan materi. Musa dan Thariq juga berhasil menanamkan nilai-nilai tauhid, memurnikan penyembahan hanya kepada Allah semata.

Memandang keberhasilan Musa dan Thariq menaklukkan Andalusia dan menanamkan nilai-nilai Islam di negeri tersebut, khalifah al-Walid bin Abdul Malik memanggil mereka beruda kembali ke Damaskus.

Thariq bin Ziyad merupakan buah dari kebijakan-kebijakan Kerajaan Umawiyah yang seolah-olah dilupakan para pembencinya. Mereka disibukkan dengan isu-isu yang dibuat oleh orang-orang Syiah bahwa Bani Umayyah menzalimi ahlul bait Rasulullah. Mereka juga larut dengan kalimat-kalimat orientalis yang mengatakan Kerajaan Umawiyah jauh dari syariat Islam. Mereka tenggelam dengan kabar-kabar palsu itu dan lupa dengan jasa-jasa Bani Umayyah.

Bagi bangsa Eropa, tentu saja kedatangan Islam melalui Thariq bin Ziyad membawa dampak besar terhadap perkembangan peradaban mereka, sebagaimana tergambar pada kemajuan Kota Cordoba. Ini adalah awal kebangkitan modern dan terbitnya matahari yang menerangi kegelapan benua Eropa. Kediktatoran dan hukum rimba berganti dengan norma-norma humanis yang membawa kedamaian.

Jasa-jasa Thariq dan kepahlawanannya diabadikan dengan nama selat yang memisahkan Maroko dan Spanyol dengan nama Selat Gibraltar. Gibraltar adalah kata dalam bahasa Spanyol yang diartikan dalam bahasa Arab sebagai Jabal Thariq atau dalam bahasa Indonesia Bukit Thariq.

Semoga Allah membalas jasa-jasa Thariq bin Ziyad rahimahullah.

Tuesday, June 28, 2016

29th June - Hari Keluarga Berencana


Keluarga, merupakan bagian (komunitas) terkecil dari masyarakat. Tapi dari keluarga yang baik akan muncul pula masyarakat yang baik dan berkualitas. Baik di sini maksudnya dari segi rohani dan jasmaninya. Karena sangat pentingnya peran sebuah keluarga dalam masyarakat maka pemerintah sejak tahun 1994, tepatnya tanggal 29 Juni memperingati hari keluarga secara nasional. Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) oleh pemerintah diadakan untuk mengajak seluruh keluarga Indonesia agar melakukan introspeksi dan berbenah diri guna berbuat yang terbaik bagi keluarganya.

Friday, June 24, 2016

Tentang Ka'bah - Tahapan Pembangunan Sang Rumah Tua



Ka'bah adalah bangunan suci kaum Muslim yang terletak di kota Mekkah, Arab Saudi. Letaknya persis di dalam Masjidil Haram. Bangunan ini berbentuk kubus dan ditetapkan sebagai arah kiblat bagi Muslim ketika sholat. Selain itu, bangunan ini merupakan bangunan yang wajib diziarahi pada musim haji dan umrah. Ka'bah juga dikenal dengan nama Baitullah (rumah Allah) atau Baitul Atiq (rumah tua).

Bagaimana sejarah awal mula hingga masa modern dari sang rumah tua ini?

Sahabat... tahukah kalian, Ka'bah yang kita lihat sekarang ini tidak lah sama dengan Ka'bah ketika pertama kali ia dibangun. Ada beberapa tahapan yang menyebutkan pembangunan Ka'bah hingga menjadi bangunan suci seperti yang kita kenal sekarang. Tahapan tersebut adalah :

1. Dibangun Pertama Kali oleh Malaikat

Sekitar 2000 tahun sebelum Nabi Adam diturunkan ke bumi, Ka'bah telah dibangun sebagai tempat thawaf para malaikat. Ini berdasarkan dari Imam ibnu Adh Dhiya bahwa telah diriwayatkan dari Ali bin al Husein ketika beliau ditanya tentang asal mulai thawaf mengelilingi Baitullah.

2. Dibangun Kembali oleh Nabi Adam As beserta Para Malaikat

Ka'bah dibangun kembali oleh Nabi Adam dengan bantuan para malaikat. Ini berdasarkan dari Abdullah bin Umar yang meriwayatkan, bahwa ketika menurunkan Adam ke bumi, Allah berfirman "Sungguh Aku menurunkanmu bersama dengan sebuah rumah yang disekelilingnya digunakan untuk thawad sebagaimana 'arasy-Ku, di sekitarnya dijadikan tampat sholat sebagaimana halnya 'arasy-Ku"

3. Dilanjutkan oleh Nabi Syts As

Ibnu Atsir menyebutkan bahwa Nabi Syts senantiasa melakukan haji hingga ajal menjemputnya dan beliaupun melaksanakan wasiat ayahnya untuk melanjutkan pembangunan Ka'bah dengan batu dan tanah.

4. Hancur Diterjang Banjir di zaman Nabi Nuh As

Setelah selesai dibangun oleh Nabi Syts, bangunan Ka'bah bertahan hingga zaman Nabi Nuh. Akan tetapi pada zaman tersebut, Ka'bah runtuh oleh bencana banjir mahadahsyat yang menerjangnya.

5. Zaman Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As

Ketika Nabi Ibrahim meninggalkan Siti Hajar di suatu lembah yang gersang, reruntuhan Ka'bah ternyata ada disana. Akan tetapi bangunan tersisa tinggallah pondasi yang sebelumnya tertutup pasir tebal. Kemudian ketika Nabi Ibrahim kembali kesana, atas perintah Allah SWT, ia beserta Ismail membangun kembali sang rumah tua. Pondasi yang bertahan lebih dari 5000 tahun sebelumnya tertutup oleh pasir tersebut kemudian terlihat setelah Al Khajuj (angin) menyapu daerah berpasir itu.



Cikal bakal bangunan Ka'bah modern sudah terlihat di zaman ini. Saat pembangunan ini pulalah Hajar Aswad ditemukan dan diletakkan di Ka'bah.

6. Kerusakan dan Pembangunan Kembali

Setelah dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, bangunan Ka'bah beberapa kali mengalami kerusakan sehingga perlu dibangun kembali.
Pertama adalah pembangunan kembali pada masa Suku Amaliqah. Pembangunan ini lebih kepada perbaikan akibat kerusakan yang disebabkan oleh waktu.
Kedua adalah pembangunan oleh Suku Jurhum. Imam Mawardi menerangkan setelah masa Suku Amaliqah, Ka'bah rusak akibat banjir besar yang menerjangnya. Suku Jurhum lah yang kemudian memperbaikinya sekaligus menambah bangunan di luar Ka'bah sebagai penahan seandainya banjir di masa depan menerjang kembali.

7. Masa Suku Quraisy

Setelah Suku Jurhum, perawatan dan tanggung jawab Ka'bah kemudian diambil alih oleh Suku Quraisy. Lima tahun sebelum periode kenabian Muhammad SAW, Mekkah kembali dilanda banjir besar dan kembali lagi bangunan Ka'bah rusak berat. Kewajiban membangun Ka'bah pun dibagi kepada 4 Suku Quraisy yang ada disana dan Nabi Muhammad SAW pun termasuk didalamnya.



Hasilnya banyak perubahan yang terjadi pada Ka'bah, diantaranya bangunan pintu yang ditinggikan, membuat saluran air, dibangunnya atap Ka'bah serta ketinggian bangunan Ka'bah yang ditambah dari awalnya 4,5 m menjadi 8 m.

8. Masa Abdullah bin Zubair

Pada masa sebelumnya, perbaikan Ka'bah tidak selesai diakibatkan dana yang tidak mencukupi. Perbaikan Ka'bah pun tidak pernah terwujud sampai Rasulullah SAW wafat, padahal keinginan Nabi SAW untuk memperbaikinya begitu tinggi. Adalah Gubernur Mekkah pada tahun 65 H, Abdullah bin Zubair, yang kemudian mewujudkan keinginan Nabi SAW tersebut. Perbaikan ini juga untuk membangun kembali Ka'bah yang rusak parah akibat serangan lontaran batu oleh Yazid bin Muawiyah. Perbaikan kali ini juga menambah tinggi Ka'bah menjadi 15 m. Dan Ka'bah di masa beliau lah Ka'bah menjadi begitu megah dan sesuai dengan apa yang pernah disifatkan oleh Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang diberitakan oleh Aisyah Ra.

9. Masa Abdul Malik bin Marwan

Ada kesalahpahaman terjadi dalam benak Khalifah Abdul Malik bin Marwan atas apa yang Abdullah bin Zubair perbuat terhadap Ka'bah. Saat itu Abdul Malik bin Marwan mengira perbaikan yang dilakukan oleh Abdullah bin Zubair adalah hasil buah pemikiran dia sendiri sehingga Ka'bah diruntuhkan bagian utaranya oleh Abdul Malik bin Marwan.
Kemudian setelah mengetahui hadits dari Aisyah Ra dimana keinginan Nabi SAW ternyata sesuai dengan apa yang telah dibangun oleh Abdullah bin Zubair, maka sang Khalifah pun menyesali perbuatannya. Akan tetapi ia mengurungkan niatnya untuk mengembalikan bentuk bangunan Ka'bah seperti sedia kala setelah berdiskusi dengan Imam Malik. Hal ini dimaksudkan oleh Imam Malik agar kemuliaan Ka'bah tidak lenyap dan mencegah di masa mendatang para penguasa Muslim tidak berlomba-lomba meruntuhkan dan membangun kembali Ka'bah sesuai dengan apa yang ada dalam pemikiran mereka.

10. Masa Kekhilafahan Turki Utsmani

Pada tahun 1039 H di masa Sultan Murad IV Al Utsmani, Mekkah dilanda hujan lebat. Hujan pun tak berhenti-henti sehingga banjir bandang pun sekali lagi melanda Mekkah dan meruntuhkan dinding dan atap bangunan Ka'bah. Sang Khilafah pun mengintruksikan perenovasian total Ka'bah. Dan setelah selesai, bentuk dan ukuran Ka'bah sebagaimana bentuknya yang kita kenal sekarang.

11. Masa Modern

Semasa Raja Fahd bin Abdul Aziz, Ka'bah direnovasi total pada tahun 1996 M atau bertapatan dengan tahun 1417 H. Renovasi meliputi penguatan pondasi, menganti atap, membuat saluran air dan menganti semua komponen menjadi komponen modern terkecuali batu Ka'bah.



Demikain Tahapan Pembangunan Sang Rumah, Ka'bah. Ternyata sejarah pembangunannya setua bahkan lebih tua dari sejarah manusia itu sendiri.
Semoga kita bisa mengambil manfaatnya dari kisah sejarah ini dan semoga tiap-tiap dari kita bisa melihat secara langsung pesona keindahan Baitullah ini kelak.
Aamiin.

------------------------------------------------

Sumber : 1 2 3 4

Wednesday, June 22, 2016

Bisakah Kita Merasakan Datangnya Sang Lailatul Qadar?


Seorang muslim tidak perlu memaksakan diri mencari-cari tanda-tanda malam lailatul qadar atau melihatnya. Hendaknya fokus pada 10 malam terakhir untuk beribadah. Hikmah dirahasiakan kapan malam tersebut agar terlihat siapa dari mereka yang memang bersungguh-sungguh mencari keutamaan malam lailatul qadar.

Namun sebagian orang bisa merasakan dan melihat malam lailatul qadar. Tanda-tandanya malam lailatul qadar diantaranya:
  • Udara terasa sejuk, tenang dan cerah. Dari Ibnu Abbas radhiallahu‘anhuma, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 
    ليلة لقدر ليلة سمحة, طلقةو لا حارة, ولا باردة, تصبح الشمس صبيحتها ضعيفة حمراء
    [malam] lailatul qadar adalah malam yang indah, cerah, tidak panas dan tidak juga dingin, keesokan harinya cahaya sinar mataharinya melemah kemerah-merahan” (HR. At-Thayalisy 349, Ibnu Khuzaimah III/231, Bazzar I/486, dihasankan oleh syaikh Ali Hasan Al-Halabi).
  • Matahari pada pagi harinya jernih dan tidak ada sinar yang menyilaukan. Dari Ubay radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    صبيحة ليلة لقدر تطلع الشمس لا شعاع لها كأنها طست حتى ترتفع
    pagi hari malam lailatul qadar, matahari terbit tidak ada sinar menyilaukan, seperti bejana hingga meninggi” (HR. Muslim no. 762).
  • Ada rasa ketenangan dan kelezatan dalam beribadah karena para malaikat Jibril ‘alaihissalam malaikat turun pada malam tersebut. Allah Ta’ala berfirman,
    تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا
    Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril” (QS. Al Qadar: 4).
    Ibnu Katsir rahimahullah menafsirkan, “Banyak malaikat yang akan turun pada Lailatul Qadar karena banyaknya berkah pada malam tersebut. Karena sekali lagi, turunnya malaikat menandakan turunnya berkah dan rahmat. Sebagaimana malaikat turun ketika ada yang membacakan Al-Qur’an, mereka akan mengitari orang-orang yang berada dalam majelis dzikir (majelis ilmu). Dan malaikat akan meletakkan sayap-sayap mereka pada penuntut ilmu karena malaikat sangat mengagungkan mereka. Adapun “ar-ruh” ada pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah malaikat Jibril” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim 8/444, Darul Thayyibah, 1420 H, Syamilah).
Malam lailatul qadar terkadang bisa dilihat dan dirasakan. Pertanyaan berikut diajukan kepada syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah, “Apakah lailatul qadar bisa dilihat oleh mata manusia? Karena sebagian orang mengatakan jika mampu manusia melihat lailatul qadar maka ia akan melihat cahaya di langit. Bagaimana Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat melihatnya? Bagaimana seseorang bisa tahu bahwa ia melihat malam lailatul qadar? Apakah ia tetap mendapat pahala jika pada malam itu ia tidak melihatnya? Kami memohon penjelasan bersama dalilnya”. 

Beliau menjawab, “malam lailatul qadar bisa dilihat dengan mata bagi mereka yang mendapat taufik dari Allah Subhanahu, dengan melihat tanda-tandanya. Para sahabat radhiallahu ‘anhum melihat dengan tanda-tandanya. Akan tetapi tidak melihatnya tidak menjadi penghalang mendapatkan pahala bagi mereka yang beribadah karena beriman dan mengharap pahala.

Hendaknya seorang muslim bersungguh-sungguh mencarinya pada 10 malam terakhir Ramadhan –sebagaimana Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan para sahabatnya radhiallahu ‘anhum– untuk mencari pahalanya. Jika bertepatan dengan malam lailatul qadar ketika ia beribadah maka ia mendapat pahalanya walaupun ia tidak mengetahuinya.

Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
 
من قام ليلة القدر إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

Barangsiapa yang mengerjakan qiyamullail pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala, niscaya akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Muttafaq ’alaihi)


Demikian semoga bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shahbihi wa sallam.

Sumber








Tuesday, June 21, 2016

SahabatAmrullah Blog's First Anniversary


Congratulation For Meeeeee....!!!!!
And for U all, absolutely :D

Akhirnya blog kesayangan kita bersama (cieleeeh) memasuki tahun pertamanya. Tak terasa yah, udah satu tahun aja umurnya. Jangan cepet-cepet gede ya :D

Pada kesempatan kali ini juga aku mau mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada sahabat semua yang sudah mau membaca artikel dan mengikuti blog ini sampai sekarang. Hiks ane terharu lho.

Aku sangat menyadari bahwa blog ini masihlah blog yang secara kualitasnya masih rendah. Yah namanya juga masih amatiran. Masih banyak artikel yang copas (tapi tetep kucantumin sumbernya lho), banyak yang artikelnya biasa-biasa aja, dan label Cerpen yang masih sedikit isinya. Padahal banyak lho cerpen bahkan cerbung yang ingin ku bagi, tapi karena kesibukan yang menentu, akhirnya banyak yang terbengkalai.

Akhir kata, makasih ya.
Semoga semakin kedepan, semakin banyak juga artikel yang bisa dishare :D

Sunday, June 19, 2016

Puasa 24 Karat


Bila makan dan minum, yang hukum asalnya mubah saja diharamkan bagi orang yang sedang berpuasa, apalagi berdusta, ghibah, bersaksi palsu, mengadu domba, dan perbuatan maksiat lainnya, yang hukum asalnya adalah haram. Tentu lebih diharamkan lagi bagi orang yang sedang puasa.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan zur (perkataan dusta), mengamalkannya, atau tindakan bodoh, maka Allah tidak butuh atas usahanya dalam menahan rasa lapar dan dahaga” (HR. Bukhori no.1903).

Makna zuur pada hadis di atas adalah perkataan dusta. Yang paling parahnya adalah persaksian palsu, yakni persaksian untuk menindas hak orang lain, atau untuk membenarkan yang keliru. Kemudian “mengamalkannya”, maksudnya melakukan tindakan-tindakan runtutan dari perkataan dustanya. Termasuk dalam hal ini, segala macam perbuatan yang menyimpang dari kebenaran; yakni maksiat.

Adapun makna tindakan bodoh di sini, adalah bodoh (tidak peduli) terhadap hak sesama. Seperti iri, hasad, menebar kebencian sesama muslim, dll. (Lihat: Syarah Ahadis As Shiyam min Kitab Bulughul Marom, hal. 120. Karya Syaikh Nashir bin Ibrahim Al ‘Abudi).

Ternyata untuk meraih kesempurnaan puasa, tidak cukup hanya dengan meninggalkan makan dan minum saja. Namun harus ada perjuangan meningalkan perbuatan sia-sia dan maksiat. Yang mana hal-hal tersebut akan merusak pahala puasa. Inilah puncak daripada tujuan disyariatkan puasa dan bentuk puasa yang diinginkan oleh Allah ‘azza wa jalla dalam firmanNya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian untuk berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian menjadi insan yang bertakwa” (QS. Al- Baqarah: 183).

Bila puasa sekedar menahan lapar dan dahaga saja, semua orang bisa melakukannya. Tidak yang awam, tidak yang sudah tau agama. Bahkan orang-orang non muslim pun mampu. Namun, puasa lahir dan batin; yakni puasa dari makan minum, dan juga dari perbuatan-perbuatan maksiat yang dapat menodai kesucian hati dan merusak pahala puasa, tak semua orang dapat melakukan. Kecuali mereka yang dirahmati Allah ‘azza wa jalla.

Disinilah saudaraku, peluang untuk berlomba-lomba dalam meraih kualitas puasa terbaik. Semakin maksimal seorang hamba meninggalkan perbuatan maksiat saat puasa, semakin baik kualitas puasanya, dan tentu semakin sempurna pahalanya. Dalam Al Quran Allah ‘azza wa jalla selalu memberi motivasi kepada hambaNya dalam hal ini,

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

Berlomba-lombalah dalam kebaikan” (QS. Al Baqarah: 148).

Dalam ayat lain, Allah berfirman,

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Bergegaslah kalian kepada ampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. Yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran: 133)

Apakah Maksiat Membatalkan Puasa?


Ibnu Rojab al Hambali, dalam buku beliau; Jami’ul ‘Ulum wal Hikam (jilid 1, hal.180) menuliskan sebuah kaidah,

أن المحرم إذا كان محرما لمعنى يختص بالعبادة يفسدها، وإن كان تحريمه عاما لم يفسدها
Larangan yang berhubungan khusus dengan suatu ibadah, maka bila dilakukan, larangan tersebut dapat membatalkan ibadah yang bersangkutan. Adapun suatu larangan yang sifatnya umum (tidak ada hubungan khusus dengan suatu ibadah), maka bila dilakukan tidak membatalkan ibadah.

Seperti puasa, larangan dari makan dan minum ada kaitan khusus dengan ibadah puasa. Karena di luar puasa, makan dan minum dibolehkan. Hanya saat puasa saja, seorang dilarang dari makan dan minum. Maka dari itu, larangan ini bila dilanggar akan membatalkan puasa. Adapun larangan dari perkataan dusta, ghibah, mengadu domba, dan maksiat lainnya, itu tidak ada kaitan khusus dengan puasa. Karena larangan ini diberlakukan umum; baik saat puasa maupun di luar ibadah puasa.

Dari kaidah ini, kita bisa ketahui, bahwa perbuatan maksiat tidak membatalkan puasa, hanya saja akan mengurangi pahala puasa. Apabila dilakukan terus menerus atau semakin banyak, maka akan sampai pada keadaan dimana seorang tidak mendapatkan dari puasanya, selain rasa lapar dan dahaga saja. Sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu’ alaihi wasallam dalam sabda beliau,

رُبَّ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلاَّ الْجُوعُ وَرُبَّ قَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ قِيَامِهِ إِلاَّ السَّهَرُ
Berapa banyak orang yang berpuasa, tidak mendapatkan buah dari puasanya selain rasa lapar. Dan berapa banyak orang yang bangun beribadah di malam hari, namun tidak mendapatkan melainkan sekedar begadang.” (HR. Ibnu Majah).

Semoga Allah memberkahi hari-hari ramadhan kita.

Sumber