Thursday, September 1, 2016

Asal Muasal Rokok Dan Fakta Pahit Di Negara Kita


Beberapa minggu terakhir, kita disungguhi berbagai berita, diskusi dan debat terkait wacana kenaikan harga rokok yang dari kisaran harga Rp. 10.000 - Rp. 20.000 menjadi Rp. 50.000. Well walaupun berita ini sebenarnya dari berita yang missinformasi, akan tetapi berita ini malah menjadi viral di media sosial dan booming sebagai bahan meme.

Banyak orang yang setuju dengan kenaikan harga rokok lebih dari 100% itu, tapi tak sedikit juga yang menolaknya dengan berbagai "alasan".
Aku sendiri sebenarnya sangat menyayangkan bahwa berita itu tidak benar. Coba klo beneran harga rokok Rp. 50.000/bungkus. Pasti banyak yang mikir-mikir buat ngeluarin duit segitu banyak cuma agar air liur ga masam. Yah minimal, anak-anak akan kesulitan untuk membeli rokok dan ikut-ikutan ngerokok.

Btw, di antara sahabat ada yang tau dari mana awalnya rokok?
Dan tahukah sahabat fakta-fakta rokok yang ada di negara kita?
Anu, faktanya agak pahit sih...

Bagi yang belum tahu, berikut ku bagikan Asal Muasal Rokok Dan Fakta Pahit Di Negara Kita :

------------------

Sampai akhir abad ke-15 tidak ada yang tahu tentang tanaman ini kecuali penduduk pribumi Amerika. Penggalian arkeologi telah menunjukkan bahwa 4000 tahun yang lalu, dan mungkin sebelumnya, suku Indian Amerika Utara telah menggunakan tembakau. Dalam peradaban kuno, asap tembakau dihubungkan dengan hal-hal medis atau obat-obatan.

Kata "tembakau" kemungkinan berasal dari nama pulau Tobago. Dari sana muncullah kata "tobaco" yang berasal dari penduduk setempat dan mempunyai arti memutar daun berukuran besar yang dimaksudkan untuk ritual merokok. Pada Ekspedisi Columbus, disana Columbus bertemu dengan orang tua yang sedang merokok atau disebut dengan "Injun", lalu penduduk setempat menawarkan kepada sang kapten kapal tersebut untuk merokok, dia tidak bisa menolaknya dan mencoba untuk "merokok" seperti yang digunakan orang-orang Indian, dia tidak hanya mencoba akan tetapi juga menyita daun tembakau yang dimiliki penduduk setempat untuk dibawa pulang. Selanjutnya, orang-orang Spanyol dan Portugis membawa daun dan biji tembakau ke Eropa kemudian orang-orang Eropa juga mulai menanam tembakau tersebut.

Duta Besar Perancis di pengadilan Portugis pada tahun 1560 yang bernama Jean Nicot mengirim beberapa tembakau kepada Ratu Catherine de Medici, dia merekomendasikan tembakau sebagai obat untuk migran (sakit kepala sebelah). Setelah cara ini ampuh kemudian menyebarlah ke seluruh Perancis

Sejak paruh kedua dari abad ke 16, tembakausemakin populer sebagai tanaman obat. Berbagai cara dilakukan dalam penerapan tembakau sebagai obat, seperti merokok melalui pipa, dikunyah, dicampur dengan berbagai bahan dan digunakan untuk merawat pilek, sakit kepala, sakit gigi, kulit dan penyakit menular. 

Pada awal abad ke-17 di wilayah Amerika modern, perkebunan tembakau semakin banyak. Pada tahun 1611, sebuah perkebunan di Virginia Inggris yang dimiliki oleh John Rolf. Benih mengimpor tembakau dari Trinidad dan Venezuela, dan dengan teknologi yang dipinjam dari Sir Walter Raleigh, mereka mulai mengekspor tembakau dari Virginia ke Inggris.


Para bangsawan pecinta tembakau antara lain adalah Raja Prusia Frederick I (abad ke-18),  dan putranya, Frederick William I, bahkan ia mendirikan "Cigarette Collegium", semacam komite yang membahas permasalahan rokok, dimulai dari rasa, bentuk, pipa rokok dan campuran-campuran bahan-bahan untuk mendapatkan cita rasa rokok yang memuaskan.

Pada tahun 1913, muncullah merek dagang "Old Joe" yang merupakan merek rokok  pertama kali yang muncul di dunia dimana perusahaan yang memproduksinya adalah  perusahaan rokok RJ Reynolds (Richard Joshua Reynolds).

Sejak saat itu, iklan rokok mulai muncul diberbagai penjuru kota. Semakin banyak yang merokok. Bukan saja kaum pria, bahkan para wanita pun tak segan merokok. Bahkan boleh dibilang, wanita dan rokok adalah simbol gairah.

Dan memasuki zaman modern, dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, mulai banyaklah penelitian-penelitian yang membuktikan bahwa rokok bukanlah jodoh sejati dari kesehatan. Seorang perokok sangat rentan terkena gangguan kesehatan. Berbagai penyakit seperti kanker paru, kanker mulut, penyakit jantung koroner dan penyakit mematikan lainnya, akan menjadi kawan setia dari seorang perokok.

Fakta itu menyadarkan banyak orang, bahwa untuk menjadi gaya hidup bersih dan sehat, opsi merokok harus dibuang jauh-jauh. Oleh karenanya jumlah perokok di negara maju menjadi berkurang drastis. Ini juga didukung dengan kebijakan pemerintah yang membuat peraturan-peraturan yang akan membuat warganya berpikir ratusan kali sebelum memutuskan menjadi perokok.

Tapi berbeda dengan negara kita tercinta Indonesia.
Rokok murah disini.
Mudah didapat, minimarket ada, warung tentu ada.
Bahkan siapapun boleh beli.
Dan siapapun boleh mencobanya.

Ajib atau "ajaib"?


Mungkin telinga kita sudah fasih mendengar berita-berita tentang anak-anak yang di usia belianya sudah merokok, atau mendengar orang yang sakit-sakitan dan meninggal gara-gara rokok. Bahkan kita boleh "berbangga" bahwa Indonesia adalah negara dengan jumlah perokok terbanyak di Asia Tenggara.

WHO merilis data bahwa 84% perokok berada di negara berkembang yang notabene perekonomiannya tak melulu sejahtera. Di Indonesia sendiri 70% perokok berasal dari keluarga miskin. Duh, si bapak bukannya beli beras malah beli rokok.

Prevalensi merokok tertinggi juga berada di kisaran umur 15-19 tahun. Umur belia, umur sekolah. Waduh dik, tahukah kalian bila narkoba adalah rumah, maka rokok adalah pintunya. Berapa banyak kalian yang terjatuh di kubangan hina narkoba yang berawal dari merokok?

Rokok mungkin terlihat sexy bagi sebagian mata orang, tapi sungguh ia adalah racun yang menggerogoti tubuh kita. Tak ada pilihan lain selain hentikan rokok. Karena bila rokok itu baik, maka ajaklah anak istrimu untuk merokok juga.

Wassalam...

Sumber : 1 2 3 4

0 comments:

Post a Comment