Saturday, May 28, 2016

29th Mei - Hari Keluarga



Dikembangkan pertama kali oleh BKKBN di Lampung pada tanggal 29 Mei 1993 pada masa Presiden Soeharto, maka pada tanggal 29 Mei kita kenal sebagai Hari Keluarga.

Sebuah keluarga merupakan institusi terkecil yang membentuk sebuah bangsa. Sebuah keluarga yang harmonis dan sejahtera tentu akan membentuk sebuah bangsa yang hebat.

Mari kita jadikan hari hari ini sebagai momentum intropeksi diri agar keluarga yang kita sayangi bisa tetap rukun, harmonis, bahagia dan sejahtera.

Wednesday, May 11, 2016

All About Love - Ahmad & Fatimah


Mereka bilang cinta itu buta...
Karena ia tak memandang bagaimana fisik kita...
Mereka bilang cinta itu murni...
Karena hadirnya jauh terpatri dalam sanubari...

Ahmad dan Fatimah...
Izinkan kubagi kisah cinta kalian...
Agar dunia tahu, cinta sejati itu benar adanya...

-----------------

Pernikahan dan hidup berumah tangga adalah hak setiap orang. Siapapun, dimanapun, dengan latar belakang apapun, pastilah mengharapkan sebuah pernikahan yang bahagia. Mencintai dan dicintai, mungkin itulah kodrat kita sebagai manusia.

Bahkan bagi mereka yang memiliki keterbatasan secara fisik juga berhak mendapatkan cinta, merasakan indahnya pernikahan dan merajut sebuah kisah indah dalam bingkai rumah tangga. Keterbatasan secara fisik harusnya tidak menghalangi siapapun untuk bermimpi dan mewujudkan impiannya. Dan mari sejenak kita melihat pasangan suami istri Ahmad dan Fatimah ini. Lihatlah sahabat.... 
Ketika cinta sejati berbicara, bagaimanapun keadaannya, hati akan selalu bersama.


Ahmad yang mempunyai keterbatasan dalam tangan, dan Fatimah yang mempunyai keterbatasan dalam hal kaki, bertemu dan memutuskan untuk menikah dan hidup bersama berdua. Setelah menikah, Ahmad dan Fatimah menghadapi situasi hidup yang penuh dengan masalah.

Tapi dengan berdua bersama, terjangan ombak terkeras sekalipun takkan menggoyahkan bahtera pernikahan mereka. Segala keterbatasan yang mereka miliki takkan menghalangi cara mereka mencintai. Bukan saling mengeluh tapi saling melengkapi. Indah terlihat karena kehadiran masing-masing dari mereka seperti kepingan puzzle yang membentuk kata 'cinta'.

Mereka mandiri dan kuat.
Saat berpakaian, Fatimah akan membantu sang suami merapikan rambut panjangnnya, sedangkam Ahmad akan menolong Fatimah dalam hal mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang tidak bisa dijangkau oleh sang istri.



Memang kisah ini tak setragis Romeo dan Juliet atau tak seindah kisah Cinderella dalam kisah dongeng.
Tapi mereka istimewa, karena cinta mereka dan perasaan mau menerima pasangannya secara utuh apa adanya.

Lalu bagaimana dengan kita?
Bisakah disaat keadaan yang menuntut kita berada dalam kondisi yang serba berkekurangan, kita tetap bertahan dengan pasangan kita?

Sumber : 1 2

Monday, May 9, 2016

Mengenal Telaga Kemuliaan Rasulullah SAW


Iman kepada hari akhir/hari kemudian, yang berarti mengimani semua peristiwa yang diberitakan dalam ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terjadi setelah kematian, adalah salah satu rukun iman yang wajib diyakini oleh setiap orang yang beriman kepada Allah Ta’ala dan kebenaran agama-Nya.

Bahkan karena tingginya kedudukan iman kepada hari akhir, Allah Ta’ala dalam banyak ayat al-Qur’an sering menggandengkan antara iman kepada-Nya dan iman kepada hari akhir. Hal ini dikarenakan orang yang tidak beriman kepada hari akhir maka tidak mungkin dia beriman kepada Allah Ta’ala, sebab orang yang tidak beriman kepada hari akhir dia tidak akan mengerjakan amal shaleh, karena seseorang tidak akan mengerjakan amal shaleh kecuali dengan mengharapkan balasan kemuliaan dan karena takut siksaan-Nya pada hari pembalasan kelak.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala menggambarkan sifat orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhir dalam firman-Nya

{وَقَالُوا مَا هِيَ إِلا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلا الدَّهْرُ}

Dan mereka berkata: “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan kita selain masa (waktu)” (al-Jaatsiyah:24).

Kewajiban Mengimani Keberadaan Telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Di antara perkara yang wajib diimani sehubungan dengan iman kepada hari akhir adalah keberadaan al-haudh (telaga) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai kemuliaan yang Allah Ta’ala berikan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang pada hari kiamat nanti orang-orang yang beriman dan mengikuti petunjuk beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam sewaktu di dunia akan mendatangi dan meminum air telaga yang penuh kemuliaan tersebut, semoga Allah Ta’ala memudahkan kita untuk meraih kemuliaan tersebut, amin.

Imam Ahmad bin Hambal berkata, “(Termasuk landasan pokok Islam adalah kewajiban) mengimani (keberadaan) telaga milik Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat, yang nanti akan didatangi oleh umat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam… sebagaimana yang disebutkan dalam banyak hadits yang shahih (dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam)”.

Imam Abu Ja’far ath-Thahawi berkata, “Al-Haudh (telaga) yang dengannya Allah Ta’ala memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, untuk diminum (airnya) oleh umat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada hari kiamat nanti) adalah suatu yang benar adanya”.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah ketika menjelaskan perkara-perkara yang wajib diimani pada hari kiamat, beliau berkata, “Pada hari kiamat (ada) telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan didatangi (oleh umat beliau)…barangsiapa yang meminum (air) telaga tersebut maka dia tidak akan merasakan haus lagi selamanya”.

Imam an-Nawawi mencantumkan hadits-hadits dalam “Shahih Imam Muslim” yang menyebutkan tentang telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bab, “Penetapan (keberadaan) telaga Nabi kita (Muhammad) shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada hari kiamat nanti)…”.


Dalil-dalil yang menjelaskan keberadaan telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam

Hadits-hadits shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menjelaskan ini banyak sekali, bahkan mencapai derajat mutawatir (diriwayatkan dari banyak jalan sehingga tidak mungkin diingkari kebenarannya).

Imam Ibnu Katsir berkata, “Penjelasan tentang telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam – semoga Allah Memudahkan kita meminum dari telaga tersebut pada hari kiamat – (yang disebutkan) dalam hadits-hadits yang telah dikenal dan (diriwayatkan) dari banyak jalur yang kuat, meskipun ini tidak disukai oleh orang-orang ahlul bid’ah yang berkeraskepala menolak dan mengingkari keberadaan telaga ini…”.

Senada dengan ucapan di atas, imam Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi menjelaskan, “Hadits-hadits (shahih) yang menyebutkan (keberadaan) telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mencapai derajat mutawatir, diriwayatkan oleh lebih dari tiga puluh orang sahabat  (dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam)…”.

Di antara hadits-hadits tersebut adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya setiap Nabi memiliki telaga (pada hari kiamat nanti), dan mereka saling membanggakan siapa di antara mereka yang paling banyak orang yang mendatangi telaganya (dari umatnya), dan sungguh aku berharap (kepada Allah Ta’ala) bahwa akulah yang paling banyak orang yang mendatangi (telagaku)”.

Juga sabda beliau dalam hadits lain, “Sesungguhnya aku akan berada di depan kalian (ketika mendatangi telaga pada hari kiamat nanti) dan aku akan menjadi saksi bagi kalian, demi Allah, sungguh aku sedang melihat telagaku saat ini”.

Dan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya aku akan berada di depan kalian ketika mendatangi telaga (pada hari kiamat nanti), barangsiapa yang mendatanginya maka dia akan meminum airnya, dan barangsiapa yang meminumnya maka dia tidak akan merasakan haus lagi selamanya”.


Gambaran tentang Telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam Hadits-Hadits yang Shahih

Barangsiapa yang meminum air telaga tersebut maka dia tidak akan merasakan haus lagi selamanya, sebagaimana hadits yang tersebut di atas.
 
– Sumber air telaga tersebut adalah sungai al-Kautsar di surga yang Allah Ta’ala peruntukkan bagi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah kalian mengetahui apa al-Kautsar itu?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahuinya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya al-Kautsar adalah sungai yang Allah Ta’ala janjikan kepadaku, padanya terdapat banyak kebaikan, dan (airnya akan mengalir ke) telagaku yang akan didatangi oleh umatku pada hari kiamat (nanti)…
Dalam hadits lain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dialirkan pada telaga itu dua saluran air yang (bersumber) dari (sungai al-Kautsar) di surga…”.

– Adapun gambaran air telaga tersebut adalah sebagaimana sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Airnya lebih putih dari susu dan baunya lebih harum dari (minyak wangi) misk (kesturi)”. Dalam hadits lain, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Dan (rasanya) lebih manis dari madu”.

– Gayung/timba untuk mengambil air telaga tersebut sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Gayung-gayungnya adalah seperti bintang-bintang di langit”. Artinya: jumlahnya sangat banyak dan berkilauan seperti bintang-bintang di langit.

– Bentuk telaga tersebut adalah persegi empat sama sisi, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang shahih.


Siapakah Orang-Orang yang Terpilih Mendatangi Telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam?
Mereka adalah orang-orang yang beriman kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan selalu mengikuti petunjuk yang beliau sampaikan. Adapun orang-orang yang berpaling dari petunjuk beliau sewaktu di dunia, maka mereka akan diusir dari telaga tersebut.
Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan bahwa ada orang-orang yang dihalangi dan diusir dari telaga yang penuh kemuliaan ini. Karena mereka sewaktu di dunia berpaling dari petunjuk dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada pemahaman dan perbuatan bid’ah, sehingga di akhirat mereka dihalangi dari kemuliaan meminum air telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, sebagai balasan yang sesuai dengan perbuatan mereka.

Imam Ibnu Abdil Barr berkata, “Semua orang yang melakukan perbuatan bid’ah yang tidak diridhai Allah dalam agama ini akan diusir dari telaga Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam (pada hari kiamat nanti), dan yang paling parah di antara mereka adalah orang-orang (ahlul bid’ah) yang menyelisihi (pemahaman) jama’ah kaum muslimin, seperti orang-orang khawarij, syi’ah rafidhah dan para pengikut hawa nafsu, demikian pula orang-orang yang berbuat zhalim yang melampaui batas dalam kezhaliman dan menentang kebenaran, serta orang-orang yang melakukan dosa-dosa besar secara terang-terangan, semua mereka ini dikhawatirkan termasuk orang-orang yang disebutkan dalam hadits ini (yang diusir dari telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam).

Terlebih lagi orang-orang yang mengingkari keberadaan telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ini, seperti kelompok Mu’tazilah, mereka termasuk orang yang paling terancam diusir dari telaga ini.

Imam Ibnu Katsir berkata, “Penjelasan tentang telaga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam – semoga Allah Memudahkan kita meminum dari telaga tersebut pada hari kiamat – (yang disebutkan) dalam hadits-hadits yang telah dikenal dan (diriwayatkan) dari banyak jalur yang kuat, meskipun ini tidak disukai oleh orang-orang ahlul bid’ah yang berkeraskepala menolak dan mengingkari keberadaan telaga ini. Mereka inilah yang paling terancam untuk dihalangi (diusir) dari telaga tersebut (pada hari kiamat), sebagaimana ucapan salah seorang ulama salaf: “Barangsiapa yang mendustakan (mengingkari) suatu kemuliaan maka dia tidak akan mendapatkan kemuliaan tersebut…”.

Imam Ibnu Abil ‘Izzi al-Hanafi berkata, “Semoga Allah membinasakan orang-orang yang mengingkari keberadaan telaga ini, dan alangkah pantasnya mereka ini untuk dihalangi dari mendatangi telaga tersebut pada hari (ketika manusia mengalami) dahaga yang sangat berat (hari kiamat)”.


Penutup
Demikianlah penjelasan ringkas tentang telaga kemuliaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang kewajiban mengimaninya merupakan perkara penting yang berhubungan dengan iman kepada hari akhir dan merupakan salah satu prinsip dasar akidah Ahlus sunnah wal jamaah, yang tercantum dalam kitab-kitab akidah para imam Ahlus sunnah.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan taufik-Nya kepada kita semua untuk dapat meraih semua kebaikan dan kemuliaan yang dijanjikan-Nya di dunia dan di akhirat kelak, sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Dekat, dan Maha Mengabulkan doa.

Sumber 

Friday, May 6, 2016

Taman Generalife - Bunga Sejarah Islam di Negeri Matador


Selama berabad-abad, Islam telah memberikan banyak kontribusi terhadap perkembangan besar dunia. Banyak disiplin ilmu yang berkembang dan mencapai puncak keemasannya dimasa-masa kekuasaan Khilafah Islamiyah. Banyak pula pencapaian yang pada saat itu dianggap mustahil telah berhasil diwujudkan oleh Kaum Muslim. Tak terkecuali dalam bidang ilmu arsitektur.

Berbicara tentang ilmu dan seni arsitektur Islam, ada yang spesial dari berbagai bangunan arsitektur yang pernah dibangun. Arsitektur Islam banyak dipengaruhi oleh kepercayaan dan ajaran Islam. Penggambaran surga yang terdapat dalam Al-Qur'an sedikit banyak mempengaruhi daya imajinasi para arsitek Muslim dalam membangun rancangannya. Oleh karenanya tak heran apabila arsitektur Islam mempunyai ciri khas yang berbeda dengan arsitektur Eropa.

Dari sekian banyak arsitektur Islam, salah satu yang paling terkenal adalah Taman Generalife yang berada di Granada, Spanyol.


Generalife berasal dari Bahasa Arab dan sebenarnya berasal dari kata "Jannat al Arif" atau Taman Arsitektur. Taman ini berlokasi di dekat Al Hambra, yaitu nama sebuah kompleks istana sekaligus benteng yang megah dari kekhalifahan Bani Umayyah yang mencakup wilayah perbukitan di batas kota Granada. Istana ini dibangun sebagai tempat tinggal khalifah beserta para pembesarnya. Al Hambra sendiri kini telah dilindungi sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO 


Dibangun pada abad ke-13 dan didekorasi ulang oleh Sultan Abu al-Walid Ismail (1313-1324 M), cucu dari Muhammad II, Generalife merupakan tempat bersantai bagi Sultan-Sultan Granada ketika mereka ingin keluar dari kesibukan pekerjaan di istana. Taman ini berisi bunga-bunga indah, buah-buahan, bahkan sayur-sayuran yang beraneka ragam. Dekorasi taman serta pancuran air dari kolam pancuran membuat suasana damai menjadi sangat kental didalam taman ini.



Saat ini Generalife dibentuk dari 2 grup bangunan yang dihubungkan dengan Patio de la Acequia (Patio of the Irrigation Ditch). Patio atau taman di tengah istana ini merupakan bagian paling penting Generalife. Dengan panjang 48.70 meter dan lebar 12.80 meter, letak keindahan Generalife berpusat disini.   
 

So, bagaimana sahabat?
Mau menelurusi jejak kejayaan Islam sembari refleksi di salah satu taman terindah di dunia?
Taman Generalife selalu menjadi pilihan teratas untuk kita kunjungi :)

-----------------------------------------------

Sumber : 1 2

Monday, May 2, 2016

Suku Korowai - The Man of Tree


Indonesia adalah negeri yang amat kaya, didalamnya terdapat ribuan warisan dunia yang takkan pernah ada duanya di dunia. Hampir 17.000 pulau baik besar atau kecil tersebar di seluruh bagian Nusantara yang berjarak 5.428 km dari Sabang sampai Merauke. Dari sana hidup sekitar 1.128 suku dengan 746 bahasa dan diantara 1.128 suku tersebut, terdapatlah salah satu suku terunik didunia yang hidup diatas pohon yang tingginya bahkan mencapai ratusan meter.

Perkenalkan, suku dari timur jauh Indonesia...
Suku Korowai...


Sekitar 30 tahun yang lalu, mungkin tak ada yang tau dengan suku ini di Papua. Pilihan hidup yang unik membuat mereka terasing dari peradaban, tak diketahui oleh orang-orang bahkan oleh pemerintah Indonesia kala itu. Suku terasing yang berpopulasi tak kurang dari 3.000 jiwa ini hidup di rumah yang dibangun di atas pohon tinggi. Rumah Tinggi, itulah sebutannya.

Pilihan hidup di atas pohon dengan tinggi puluhan bahkan ratusan meter, bukan tanpa alasan bagi mereka. Kepercayaan lah yang membuat mereka memilih tinggal berkawan langit. Mereka percaya, dengan tinggal di ketinggian pohon, mereka akan terbebas dari gangguan roh jahat. Semakin tinggi semakin bagus. Dan tentu juga mereka tinggal diatas pohon guna menghindari ancaman binatang buas.


Era tahun 1970-an adalah saat-saat perkenalan mereka dengan dunia luar setelah sekian waktu mereka mengira, hanya merekalah penghuni dunia ini. Baru kemudian pada tahun 1980 sebagian dari mereka pindah ke desa-desa yang baru dibuka dari Yaniruma di tepi Sungai Becking, Mu dan Basman. Tahun-tahun berikutnya, perpindahan mereka ke desa-desa yang baru pun semakin banyak.
Fakta yang cukup mencengangkan juga berhasil terungkap dari suku ini. Dikatakan bahwa suku ini mempraktekkan prilaku kanibalisme!!!

Tapi tentu saja praktek ini telah lama ditinggalkan oleh Suku Korowai. Jadi leluhur mereka pada zaman dahulu sudah terbiasa memakan daging manusia, jangan bayangkan dulu kanibalisme mereka seperti di film-film, dimana mereka akan menangkap orang asing dan merebusnya hidup-hidup.
Ngga, sama sekali ngga.
Kanibalisme mereka semacam hukuman, dimana seseorang yang diketahui mempraktekkan ilmu hitam/sihir maka akan dihukum mati dan jasadnya dimakan oleh mereka.
Gitu...

 
Sekarang telah lama berlalu sejak terakhir kali ada yang mempraktekkan itu. Suku Korowai sekarang tak ubahnya dengan kita kebanyakan. Hidup damai dengan kehidupan mereka yang unik.
Membaur dengan alam...
Dekat dengan langit...
Dan senantiasa menjaga keasrian lingkungan...

 

Sumber : 1 2