Saturday, September 16, 2017

Review Comic - Goblin Slayer


Status : On Going
Warning : Spoiler sedang

Sadis dan tragis.
Itulah kesan pertama ketika kita membaca chapter pertama manga ini. Sekumpulan petualang pemula memasuki sarang goblin, makhluk kelas rendahan yang mereka pikir bodoh dan mudah dikalahkan, misi yang sesuai untuk party pemula seperti mereka. Akan tetapi, ketika mereka memasuki sarang tersebut, mereka menemui kenyataan pahit, goblin tidaklah bodoh seperti yang mereka pikirkan. Akibat kesembronoan mereka, sekumpulan petualang muda berbakat ini harus menanggung risiko yang tidak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Petualang laki-lakinya dibunuh dan dimutilasi.
Petualang perempuannya diperkosa.

Seorang pendeta muda juga menjadi salah anggota dalam party tersebut. Melakukan misi untuk pertama kalinya, ia shock setelah satu persatu temannya dihabisi oleh segerombolan goblin kurang ajar tersebut. Tapi ditengah-tengah keputusasaanya, orang itu tiba-tiba muncul...... Sang Goblin Slayer.


Tak ada yang tau nama asli dari sosok Goblin Slayer ini, hanya sedikit orang yang pernah melihat wajahnya (di manga bahkan tidak pernah sekalipun dilihatkan wajahnya). Tapi ada satu hal yang membuatnya terkenal, walau sudah berlevel tinggi, dia tak punya keinginan lain selain hanya membunuh para goblin. Dari sanalah julukan Goblin Slayer disematkan orang-orang kepadanya.

-----------------------------------------------------------------

Goblin Slayer adalah manga karya Kurose Kousuke. Baru belasan chapter yang terbit. Memang updatenya lama, bisa satu bulan sekali baru update-nya. Mengambil tema Medieval Fantasy, manga ini mengambil sudut pandang yang sangat familiar bagi gamer RPG atau penyuka anime tipe game seperti SAO atau Log Horizon.

Dalam manga ini ada perserikatan petualang dimana para petualang berkumpul dan bisa mengambil misi dan juga membentuk party untuk misi tersebut. Ada juga toko Smith penyedia barang-barang seperti senjata dan armor. Para petualang pun dibagi per job, ada yang sebagai swordman, priest, archer dan lain hal sebagainya. Dan tak ketinggalan, para petualang tersebut dibagi tingkatannya berdasarkan dari kemampuan dan kekuatan yang dimiliki. Tingkatan terendah adalah Keramik dan tingkatan tertinggi berupa Platina. Total ada 10 tingkatan.

Tapi jangan mengira petualangan di Goblin Slayer adalah petualangan yang menyenangkan dan bisa diikuti semua umur seperti DanMachi. Ini berada di level yang berbeda, bahkan tingkat kesadisannya hampir menyamai level Berserk.  

Gore. Sangat tidak diremomendasikan untuk dibaca anak-anak.

Tapi sebenarnya yang membuat anak-anak tidak diperbolehkan melirik manga ini, bukan saja karena tingkat kesadisannya yang tinggi, tetapi juga karena unsur nudity disetiap chapter yang uncensored alias terlalu vulgar. Maka bijaksanalah klo mau membaca manga ini. Memang Goblin Slayer adalah komik yang dikhususkan untuk pembaca dewasa.

(Mature Only)

---------------------------------------------------------

Jadi udah diperingatkan lho ya :D
Klo masih nekat membaca yaa risiko ditanggung sendiri.

Tuesday, September 5, 2017

Kasus Pemalsuan Yang Mengguncang Dunia Seni Lukis


Pernah nonton film Bean : The Movie (1997) dimana Mr. Bean menjadi petugas jaga di Museum Inggris yang kemudian gara-gara tertidur pas kerja malah dipindah tugas ke museum di Amerika Serikat?
Pas pernah kan :D

Kita semua tahu akhir kisahnya, dimana karya fenomenal Whistler's Mother yang tidak sengaja dirusak Mr. Bean kemudian berhasil "diperbaiki" oleh Mr . Bean tanpa ada yang menyadarinya. Walau ini film komedi tapi sebenarnya ending film ini tragis juga, karena secara tidak langsung sudah terjadi pemalsuan sebuah barang seni lho.

Dan ternyata, didunia nyata pun ada banyak contoh Kasus Pemalsuan yang bahkan sampai Mengguncang Dunia Seni, seperti kasus-kasus dibawah ini :


1. Elmyr de Hory - Pemalsu Lukisan


Selama hampir 20 tahun, sepak terjang de Hory tak tercium oleh orang-orang. Begitu banyak lukisan yang dia palsukan ditempat ia tinggal di Ibiza. Tapi serapat-rapatnya kita menyimpan bangkai, suatu saat bau busuknya akan tercium jua.

Pada tahun 1967, seorang mantan gubernur Texas akhirnya menyadari bahwa 100 lukisan yang dibelinya dari de Hory ternyata palsu. Kasusnya pun dilaporkan kepihak berwajib. Setelah sempat buron, akhirnya pada tahun 1968 dia menyerahkan diri. Anehnya adalah dia hanya dijatuhi hukuman penjara selama 2 bulan saja.

Selepas dari penjara, dia kemudian memulai kembali usahanya. Tapi sayang, imej sebagai pemalsu lukisan sudah melekat padanya sehingga hanya sedikit dari hasil karyanya yang berhasil dijual. Akhir hidup de Hory pun tragis, bunuh diri dengan meminum banyak obat tidur akibat tekanan yang tidak bisa ditanggungnya lagi.


2. Ely Sakhai - Pemasok Lukisan Palsu


Menjadi orang kaya dengan hidup yang flamboyan bisa berakhir tragis seperti yang dialami Ely Sakhai. Mendapatkan pundi-pundi dolar dari hasil sesuatu yang ilegal cepat atau lambat akan diketahui orang dan diminta pertanggungjawabannya.

Modusnya adalah dia membeli lukisan bagus dari beberapa seniman yang belum terlalu terkenal yang kemudian digandakannya dan dipalsukan sertifikat keasliannya. Hasilnya kemudian dijual ke beberapa orang. Contoh kesuksesannya seperti keberhasilan dia menjual lukisan hasil karya Marc Chagall seharga 300 ribu dolar pada acara pelelangan ditahun 1990 yang kemudian beberapa tahun setelahnya dia juga berhasil menjual lukisan yang sama pada pebisnis Jepang seharga 500 ribu dolar.

Tapi Ely hanyalah pemasok, bukan dia yang membuat tiruan lukisan tersebut. Sampai akhirnya dia ditangkap, tidak pernah diketahui siapa orang yang membuat lukisan palsu yang dijual oleh Ely.


3. Otto Wacker - Memalsukan Karya Van Gogh


Vincent Van Gogh adalah salah satu seniman terbesar yang pernah lahir didunia. Berbagai karya lukisannya sangat terkenal dimana-mana, dan tentu saja harganya sangat mahal. Ini yang kemudian membuat seorang Otto Wacker memalsukan secara besar-besaran karya lukisan dari Van Gogh.

Pada tahun 1927, dia mengklaim dirinya mempunyai 33 lukisan karya Van Gogh. Mendengar hal ini, tentu saja para kurator lukisan dan pecinta seni berbondong-bondong mengajukan penawaran. Grete Ring dan Walter Fielchenfeldt, manajer dari suatu galeri seni akhirnya membeli semua lukisan tersebut tanpa mereka sadari semuanya palsu.

Akan tetapi semuanya terbongkar setelah Wacker hanya bisa mengirimkan 29 lukisan saja. Adapun sisa 4 lainnya dikirimkan kemudian. Dari kejanggalan inilah kemudian pemalsuan tercium karena kemudian diketahui ke-4 lukisan tersebut ternyata lukisan yang baru saja dilukis.

Wacker pun kemudian dihukum, akan tetapi untuk menjerat sang pemalsu ternyata membutuhkan perjuangan ekstra karena ternyata Wacker menjadi orang pertama yang menggunakan bahan kimia dalam pemalsuannya sehingga lukisan palsunya sangat identik dengan yang aslinya. Paling tidak perlu 5 tahun para kurator dan ahli lukisan untuk memeriksa hasil pemalsuan Wacker ini. Sisi positifnya adalah dengan adanya kasus ini juga memicu peningkatan standar dan metode pemeriksaan karya seni yang membuat lukisan lebih sulit untuk dipalsukan.


4. Spanish Forger


Berbeda dengan kasus lainnya, seseorang yang disebut Spanish Forger ini tidak pernah berhasil ditangkap. Tidak pernah diketahui siapa dalangnya, dimana dia memalsukan, berapa lama sudah dia melakukannya dan berapa banyak lukisan yang sudah dipalsukannya. Bahkan julukan "Spanish" pun tidak berarti dia orang Spanyol, itu hanyalah julukan karena kejeniusannya dalam melakukan pemalsuan.

Julukan tersebut muncul setelah seorang bernama Gnoli membawa sebuah lukisan yang dipercaya karya maestro bernama Jorge Inglese dan menunjukkannya kepada direktur sebuah galeri seni yang ada di Belle de Costa untuk melihat keotentikannya. Direktur bernama Greene itu pun kemudian menyimpulkan bahwa lukisan itu adalah palsu. Dan dikarenakan Jorge berasal dari Spanyol, maka pemalsu lukisan tersebut pun diberi nama Spanish Forger atau Pemalsu dari Spanyol.

Paling tidak ada 150 lukisan yang diketahui hasil pemalsuan dari Spanish Forger. Berbeda dengan pemalsu lainnya yang hanya memalsukan karya orisinil orang lain, Spanish Forger menggabungkan elemen-elemen kecil dari berbagai lukisan yang kemudian menjadi sesuatu yang sangat terlihat asli.

Bagaimana orang lain bisa mengetahui lukisan palsu berkaitan dengan si Spanish Forger ini? Well, ternyata ia menempatkan citra bidak catur yang dibuat berbeda dengan gaya khas latin. Itulah yang menjadi benang merah dari lukisan-lukisan palsu ciptaannya. Selain itu dia sangat pandai menyembunyikan identitasnya hingga sampai sekarang tidak ada yang tahu siapa sebenarnya Spanish Forger ini.

Monday, September 4, 2017

Derita Rohingya, Derita Kita Juga


"......dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial....."

Demikian sedikit penggalan dari isi Pembukaan UUD 1925 Republik Indonesia yang menjadi cikal bakal dari segala tindakan bangsa Indonesia. Sebuah kalimat yang begitu jelas bahwa para pendiri negeri ini menginginkan bukan saja kemerdekaan, perdamaian dan keadilan bagi masyarakat Indonesia tapi juga bagi masyarakat dunia dengan ikut serta dalam upaya ketertiban dunia.

Oleh karenanya, Indonesia terjun langsung dalam membantu perdamaian dunia seperti contohnya dengan aktif ikut serta menjadi salah satu penjaga perdamaian di berbagai kawasan di dunia melalui Pasukan Garuda ataupun sikap politik dengan tidak mengizinkan adanya Kedubes Israel ada di Indonesia dan hubungan bilateral dikarenakan kekejaman Zionis Israel terhadap warga Palestina yang tidak dapat dibenarkan. Indonesia dari dulu dan (semoga) hingga sekarang, tidak pernah membiarkan kekejaman ada di muka bumi ini.

Bukan saja ditingkat pemerintah, bahkan jiwa-jiwa setiap individu rakyat Indonesia juga menyerukan hal sama. Sesuai dengan sila kedua Pancasila "Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab", rakyat Indonesia mempunyai jiwa yang menggelora setiap ada tindakan sewenang-wenang dan biadab, dari mana pun, oleh siapapun.

Sehingga kita bisa memahami bahwa apa yang sudah kita ketahui kondisi saat ini di Myanmar, penderitaan etnis Rohingya disana, adalah penderitaan kita juga. Genosida disana nyata, dan kita marah akan hal itu.


Tapi seperti yang dikatakan Presiden Turki, Erdogan, dunia seakan buta dan tuli dengan apa yang dilakukan pemerintah Myanmar ke etnis Rohingya. Tak peduli, tak heboh. Padahal kekejaman yang terjadi tak kalah bahkan lebih lagi apabila dibandingkan dengan berbagai isu yang terjadi di Eropa ataupun di Amerika Serikat. Persis seperti apa yang ada di Palestina, mereka para pemimpin dunia terdiam dan tak kuasa (atau tak mau) untuk menghentikan kekejaman ini.

Ironisnya adalah, pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi yang mendapatkan Nobel Perdamaian ditahun 1991, malah terdiam sunyi. Lalu dimanakah kata-katanya dulu "Pada dasarnya tujuan hidup manusia adalah menciptakan dunia yang bebas dari penindasan, rasa putus asa dan tidak memiliki tempat tinggal"?
Bullshit!

Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Terakhir Presiden Joko Widodo mengutus Menteri Menlu Retno Marsudi untuk berkomunikasi langsung dengan pemerintah Myanmar. Jokowi juga telah menyampaikan sikap, walau setahu saya dari perkataan beliau tidak ada ucapan mengutuk, tapi paling tidak beliau berujar bahwa apa yang terjadi harus dihentikan dan mengatakan harus ada aksi nyata agar semua ini berakhir.
Kita tunggu, aksi nyata seperti apa yang dimaksudkan oleh presiden kita.

Detik ini tulisan yang saya tulis ini dibuat, entah berapa orang Rohingya yang masih menderita ataupun yang hilang nyawanya.

Apapun kontribusi kita amatlah berarti, bahkan doa pun sudah sangat berarti dan menunjukkan ada dimana posisi kita. Donasi tentu bernilai sama. Sama-sama baiknya dan lebih baik lagi dilakukan keduanya.

Yang ga baik itu adalah yang nyinyir. Seakan apa yang terjadi di Myanmar bukan urusannya, ngga berpengaruh kehidupnya. Padahal siapa tahu besok kita yang merasakannya, karena peristiwa di dunia itu seakan roda yang berputar dengan cepatnya. Oleh karenanya, selagi negara kita kuat maka ambil lah peran untuk menjaga ketertiban dunia. Segala bentuk penjajahan dan genosida harus segera dimusnahkan dari muka bumi.

Terakhir, begitu banyak hoax yang berseliweran. Baik itu berita ataupun foto. Selain itu banyak juga pihak yang mencoba menggembosi kegawatdaruratan peristiwa yang ada. Maka telaah dengan baik. Tetap fokus dijalan dimana tujuan kita menghilangkan penderitaan etnis Rohingya bisa tercapai. Jangan sampai niat dan tindakan baik kita tercoreng karena sikap terburu-buru kita.

Kandangan, 4 September 2017
Kami saudaramu, Rohingya

Saturday, September 2, 2017

Review Comic - Cage of Eden


Status : Tamat
Warning : Spoiler sedang

Jujur, awalnya cuma iseng doang baca manga ini. Tapi ternyata plotnya benar-benar intens, artwork-nya berkualitas dan detailnya pun juga bagus. Mungkin ini pertama kalinya aku menamatkan membaca manga hanya dengan sekali duduk!!!

Cage of Eden mengisahkan tentang Akira Sengoku dan teman-teman SMA-nya yang terdampar disuatu pulau antah berantah setelah pesawat yang mereka tumpangi sehabis studi tur mengalami kecelakaan dan jatuh. Sengoku yang berhasil selamat kemudian mencari teman-temannya yang terpencar diberbagai penjuru pulau. Ditengah pencariannya itu, Sengoku menemukan fakta yang takkan bisa dia nalar, pulau tempat pesawatnya itu terdampar dihuni oleh binatang-binatang yang seharusnya sudah punah ratusan ribu bahkan jutaan tahun yang lalu.



Sengoku bersama teman-temanya pun tidak lagi hanya sekedar mencari cara agar bisa keluar dari pulau itu, tetapi kemudian bersama-sama mencoba menyibak tabir misteri dari apa yang mereka alami selama ini. Tapi ditengah usahanya tersebut, masalah demi masalah selalu muncul. Baik dari para makhluk buas maupun dari sesama penumpang "gila" yang eksistensinya tidak ingin diganggu.

 
(Bukan saja didarat, musuh juga datang dari atas)

Mereka juga harus menghadapi sosok pembunuh yang misterius yang berada diantara penumpang yang selamat, menghadapi orang-orang yang merasa mempunyai kekuasaan dan bersikap otoriter terhadap sesama, dan juga mereka harus berhasil survive dari penyakit-penyakit yang setiap saat mengancam. Pada intinya, tidak ada tempat yang aman di pulau ini. Mereka harus bisa kembali ketempat asal mereka.

(Para psikopat malah muncul disaat-saat seperti ini)

Tapi yang membuat aku tertarik untuk membaca terus menerus, chapter per chapter dari manga ini, bukan konfliknya tapi misterinya.

Ada dimana mereka?
Mengapa binatang yang harusnya punah malah eksis di pulau ini?
Bagaimana cara mereka keluar dari pulau ini?

Juga tempat-tempat dan artefak misterius yang mereka temukan disepanjang perjalananan mereka akan menambah satu pertanyaan lagi, apa sebenarnya yang terjadi di pulau misterius ini?


----------------------------------------

Cage of Eden sebenarnya mempunyai potensi menjadi salah satu manga petualangan dan misteri terbaik. Manga ini mempunyai semuanya. Bukan saja kualitas gambar tapi juga kualitas alur cerita yang menegangkan, ditambah juga misteri-misteri yang selalu muncul. Kita sebagai pembaca pastilah menerka-nerka apa yang sedang terjadi dari potongan-potongan puzzle di setiap chapter-nya dan berharap pada akhirnya, tirai misteri yang menyelimuti kisah di manga ini kemudian terbuka.

Tapi sayangnya, apa yang kita harapkan tidak terjadi. Cerita misteri yang dibangun sejak awal chapter harus rusak karena ending yang begitu mengecewakan dan menyisakan plothole yang tak terjawab. Kesan terburu-buru sangat terlihat sehingga manga ini mengalami akhir yang tidak jelas.

Ini ditambah dengan fans service yang tidak perlu dan berhamburan disana sini.

Sayang sekali memang, padahal potensi manga ini sangat besar.

Tapi tentu manga ini sangat bagus untuk dibaca dan sangat sayang apabila dilewatkan. Aku sangat menyarankan untuk membacanya, bukan saja karena bagusnya kualitas manga ini tapi lebih kepada agar kalian juga merasakan sensasi membaca horrible ending sama seperti yang aku rasakan. Huahahahaha.

Review Film - Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1 & 2


Spoiler Alert!!

Klo boleh jujur, ada yang miss dari pengambilan judul Reborn ini. Tak tepat diberi nama Reborn karena hanya memuat joke-joke lawas. Reborn sejatinya menampilkan sesuatu yang baru sesuai zaman sehingga Warkop DKI lahir kembali sesuai dengan perkembangan generasi yang ada sekarang. Ini bukan Reborn, hanya menyajikan ulang kembali. Bahkan dengan penambahan hal-hal yang tidak perlu, yah boleh dibilang film ini menjadi amburadul.

Hanya pemilihan cast Abimana Aryasatya sebagai Dono yang jempolan di film. Sisanya? Meh!

Inti dari film ini sebenarnya mengisahkan tentang trio Dono (Abimana Asyasatya), Kasino (Vino G. Sebastian) dan Indro (Tora Sudiro) yang bekerja di CHIPS (Cara Hebat Ikut Penanggulangan Sosial) yang secara tidak sengaja merusak lukisan di sebuah pameran dan harus mengganti rugi. Tak tanggung-tanggung, mereka harus menggantinya sebanyak 8 milyar, bila tidak, siap-siap penjara menanti mereka. Bingung mencari bilangan rupiah tersebut, secara ajaib mereka menemukan sebuah peta harta karun yang akhirnya membawa mereka ke pulau mistik di ujung barat Malaysia.

Simpel sebenarnya secara plot. Bila ditambahi dengan bumbu-bumbu komedi yang sesuai, maka berhasil lah Reborn dari Warkop DKI ini. Tapi entahlah seperti ada yang salah atau aku sendiri yang tidak memahami jalan pemikiran sutradara Anggy Umbara dalam membawakan ceritanya. Yang pasti, film ini penuh dengan kekacauan, bukan saja plotnya, tapi juga lawakannya.


Dimulai dari Part I.
Di dalam bagian pertama ini terlalu banyak candaan vulgar dan terlalu banyak menayangkan adegan-adegan seksi dari pemain perempuannya. Memang wanita-wanita seksi menjadi salah satu ciri khas film Warkop DKI jadul. Tapi tidak untuk sekarang, tidak laku lagi dan tentu tidak lucu lagi. 

Ada pula adegan-adegan yang terlalu dipaksakan sehingga membuat kita mengernyitkan dahi. Contohnya seperti adegan Kasino yang nyanyi di bandara. Bukan... aku bukan mempermasalahkan suara Vino yang bernyanyi dengan suara "aduhai", ini masalah logika aja. Kasino waktu itu nyanyi untuk memberi kode kepada Indro sama Dono buat ngejar cewek berbaju merah yang ga sengaja kopernya ketuker sama mereka. Daripada nyanyi, kenapa ga langsung aja coba bilangin. Lagian ga bakal resepsionis (atau apalah namanya) yang memperbolehkan seseorang bernyanyi gaje dimana suaranya bisa terdengar satu bandara. 

Untuk lucu, kadang unsur rasionalitas harus diperhatikan juga.

Bagian pertama ini juga banyak memuat joke-joke lawas, ga terlalu dipermaslaahkan sih soalnya bagiku asyik aja sebagai nostalgia. Tapi  joke dari film luar pun juga dipakai. Entah ada izinnya atau ngga, tapi kentara bener sih. Bisa nebak pas adegan yang mana? Ini clue-nya.



Well well well...
Part I memang penuh kekurangan disana sini, tapi paling tidak masih bisa dinikmati. Kita masih bisa tertawa lepas.
Tapi Part II beda lagi.
Bukannya lebih baik, malah tambah parah!

Part II tidak mempunyai keteraturan alur cerita seperti Part I, maka tak heran banyak orang (termasuk aku) yang kesulitan mencerna isi kisahnya. Loncat kesana kemari. Adegan yang tidak masuk akal begitu sering muncul silih berganti. Alih-alih membuat tertawa, yang ada malah penontonnya yang kebingungan. Aku pun bingung bagaimana harus menjelaskan alur cerita dari Part II ini.

Dominasi Kasino pun masih terlalu kentara di bagian kedua ini. Dia terlalu banyak mengambil dialog daripada yang lainnya. Sayangnya Vino tak terlalu berhasil membawakan imej Kasino asli. Indro terlihat hanya sebagai pelengkap saja. Aku bahkan sempat kasihan melihat Tora Sudiro (bukan karena kasusnya lho). Cuma Abimana sebagai Dono yang masih bisa mempertahankan kualitasnya, walau memang perut buncit buatannya terlihat tidak proporsional dengan tangan kurusnya.


Diakhir cerita pun bukannya mendapatkan sesuatu yang memuaskan malah kita mendapatkan plot twist yang ngga banget dan ngga penting banget yang malah membuat ceritanya menjadi semakin absurd.

Aku tak bisa mengatakan film ini gagal. Bagaimana mungkin dikatakan film ini gagal klo animo masyarakat untuk menontonnya sangat besar. Bahkan bioskop didaerahku pun menyediakan 6 studio untuk mengantisipasi meledaknya jumlah penonton. Dan memang, ketika aku menonton, dikursi bawah pun juga penuh. Kabarnya malah dari 2 hari penayangannya saja, nyaris 2 juta orang yang menontonnya. Luar biasa bukan?

Tapi sebagai penggemar Warkop DKI dan tumbuh dimasa dimana film-film tersebut tayang di televisi, aku boleh donk protes.
Tolong jangan rusak Warkop-ku.