Saturday, September 2, 2017

Review Film - Warkop DKI Reborn : Jangkrik Boss Part 1 & 2


Spoiler Alert!!

Klo boleh jujur, ada yang miss dari pengambilan judul Reborn ini. Tak tepat diberi nama Reborn karena hanya memuat joke-joke lawas. Reborn sejatinya menampilkan sesuatu yang baru sesuai zaman sehingga Warkop DKI lahir kembali sesuai dengan perkembangan generasi yang ada sekarang. Ini bukan Reborn, hanya menyajikan ulang kembali. Bahkan dengan penambahan hal-hal yang tidak perlu, yah boleh dibilang film ini menjadi amburadul.

Hanya pemilihan cast Abimana Aryasatya sebagai Dono yang jempolan di film. Sisanya? Meh!

Inti dari film ini sebenarnya mengisahkan tentang trio Dono (Abimana Asyasatya), Kasino (Vino G. Sebastian) dan Indro (Tora Sudiro) yang bekerja di CHIPS (Cara Hebat Ikut Penanggulangan Sosial) yang secara tidak sengaja merusak lukisan di sebuah pameran dan harus mengganti rugi. Tak tanggung-tanggung, mereka harus menggantinya sebanyak 8 milyar, bila tidak, siap-siap penjara menanti mereka. Bingung mencari bilangan rupiah tersebut, secara ajaib mereka menemukan sebuah peta harta karun yang akhirnya membawa mereka ke pulau mistik di ujung barat Malaysia.

Simpel sebenarnya secara plot. Bila ditambahi dengan bumbu-bumbu komedi yang sesuai, maka berhasil lah Reborn dari Warkop DKI ini. Tapi entahlah seperti ada yang salah atau aku sendiri yang tidak memahami jalan pemikiran sutradara Anggy Umbara dalam membawakan ceritanya. Yang pasti, film ini penuh dengan kekacauan, bukan saja plotnya, tapi juga lawakannya.


Dimulai dari Part I.
Di dalam bagian pertama ini terlalu banyak candaan vulgar dan terlalu banyak menayangkan adegan-adegan seksi dari pemain perempuannya. Memang wanita-wanita seksi menjadi salah satu ciri khas film Warkop DKI jadul. Tapi tidak untuk sekarang, tidak laku lagi dan tentu tidak lucu lagi. 

Ada pula adegan-adegan yang terlalu dipaksakan sehingga membuat kita mengernyitkan dahi. Contohnya seperti adegan Kasino yang nyanyi di bandara. Bukan... aku bukan mempermasalahkan suara Vino yang bernyanyi dengan suara "aduhai", ini masalah logika aja. Kasino waktu itu nyanyi untuk memberi kode kepada Indro sama Dono buat ngejar cewek berbaju merah yang ga sengaja kopernya ketuker sama mereka. Daripada nyanyi, kenapa ga langsung aja coba bilangin. Lagian ga bakal resepsionis (atau apalah namanya) yang memperbolehkan seseorang bernyanyi gaje dimana suaranya bisa terdengar satu bandara. 

Untuk lucu, kadang unsur rasionalitas harus diperhatikan juga.

Bagian pertama ini juga banyak memuat joke-joke lawas, ga terlalu dipermaslaahkan sih soalnya bagiku asyik aja sebagai nostalgia. Tapi  joke dari film luar pun juga dipakai. Entah ada izinnya atau ngga, tapi kentara bener sih. Bisa nebak pas adegan yang mana? Ini clue-nya.



Well well well...
Part I memang penuh kekurangan disana sini, tapi paling tidak masih bisa dinikmati. Kita masih bisa tertawa lepas.
Tapi Part II beda lagi.
Bukannya lebih baik, malah tambah parah!

Part II tidak mempunyai keteraturan alur cerita seperti Part I, maka tak heran banyak orang (termasuk aku) yang kesulitan mencerna isi kisahnya. Loncat kesana kemari. Adegan yang tidak masuk akal begitu sering muncul silih berganti. Alih-alih membuat tertawa, yang ada malah penontonnya yang kebingungan. Aku pun bingung bagaimana harus menjelaskan alur cerita dari Part II ini.

Dominasi Kasino pun masih terlalu kentara di bagian kedua ini. Dia terlalu banyak mengambil dialog daripada yang lainnya. Sayangnya Vino tak terlalu berhasil membawakan imej Kasino asli. Indro terlihat hanya sebagai pelengkap saja. Aku bahkan sempat kasihan melihat Tora Sudiro (bukan karena kasusnya lho). Cuma Abimana sebagai Dono yang masih bisa mempertahankan kualitasnya, walau memang perut buncit buatannya terlihat tidak proporsional dengan tangan kurusnya.


Diakhir cerita pun bukannya mendapatkan sesuatu yang memuaskan malah kita mendapatkan plot twist yang ngga banget dan ngga penting banget yang malah membuat ceritanya menjadi semakin absurd.

Aku tak bisa mengatakan film ini gagal. Bagaimana mungkin dikatakan film ini gagal klo animo masyarakat untuk menontonnya sangat besar. Bahkan bioskop didaerahku pun menyediakan 6 studio untuk mengantisipasi meledaknya jumlah penonton. Dan memang, ketika aku menonton, dikursi bawah pun juga penuh. Kabarnya malah dari 2 hari penayangannya saja, nyaris 2 juta orang yang menontonnya. Luar biasa bukan?

Tapi sebagai penggemar Warkop DKI dan tumbuh dimasa dimana film-film tersebut tayang di televisi, aku boleh donk protes.
Tolong jangan rusak Warkop-ku.




0 comments:

Post a Comment