Monday, October 28, 2019

Egoisnya Mereka Yang Merokok

Ada sebuah kutipan yang tertulis "Pekerjaan yang paling sia-sia dalam hidup, adalah menasehati mereka yang sedang jatuh cinta". Sebuah kutipan yang menunjukkan betapa akal logika tidak bekerja bagi mereka yang sedang jatuh cinta, walaupun telah kita nasehati, mereka yang jatuh cinta akan mengabaikannya, walau mereka tahu jikalau mereka salah.

Kutipan tersebut memang ada benarnya, tapi apabila mau mengikuti perkembangan di era sekarang, maka kutipan tersebut berubah menjadi "Pekerjaan yang paling sia-sia dalam hidup, adalah menasehati perokok akan bahayanya".

(Sumber Foto - Link)

Rokok sebenarnya sudah menjadi permasalahan serius yang berlarut-larut dibiarkan. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwasanya rokok lebih banyak membawa mudharat dibandingkan dengan manfaatnya yang cuma seupil. Dari risiko kanker paru-paru, penyakit jantung, stroke, kerusakan gigi dan penyakit mematikan lainnya.

Berdasarkan hasil Riskesdas 2018, disebutkan jumlah perokok diatas 15 tahun sebanyak 33,8% dengan jumlah perokok laki-laki sebanyak 62,9% (sumber).  Berdasarkan data dari kementrian kesehatan, 1 dari 4 laki-laki adalah perokok. .

Kita tidak akan berbicara lebih panjang masalah bahaya rokok. Semua orang mengetahui, bahkan perokok itu sendiri. Yang akan kita bahas adalah sikap dari perokok itu sendiri, kenyataan bahwa betapa egosinya mereka.

Menurut pakar kesehatan, bila diumpamakan bahaya rokok itu 100%, maka hanya sekitar 25% dampaknya yang dirasakan oleh perokok itu sendiri. Sedangkan yang 75% dirasakan oleh perokok pasif. Dari sumber yang sama, 96 juta masyarakat Indonesia menjadi perokok pasif (sumber). Selain lebih berdampak ke perokok pasif, bahaya mengancam yang mungkin tidak nampak adalah third hand smoker, yaitu mereka yang terpapar polutan rokok walaupun sedang tidak berada didekat orang yang merokok.

Kebiasaan perokok di Indonesia tidak hanya berbahaya bagi mereka sendiri tetapi juga bagi orang sekitarnya. Mereka dengan cueknya tetap merokok di tempat umum, didekat anak balita (bukan saja anak balita orang lain, bahkan anak balita sendiri tetap mereka cuek merokok), merokok didalam rumah, di WC, di kamar dengan meninggalkan berbagai polutan dari asap rokok yang tetap ada di baju mereka, di dinding rumah, seprai dan lain sebagainya.

Mereka tetap saja merokok dengan dalih "pahit liur, mulut masam dan lain sebagainya". Ngga enak klo ga merokok, intinya. Dan ketika ditegur, bukannya sadar, malah memasang muka masam.

(Sumber Foto - Link)

Inilah yang aku sebut, bahwa sungguh egoisnya mereka-mereka yang merokok. Padahal sudah tahu bahayanya, sadar bahwa merokok itu berdampak ke orang lain. Tapi tetap saja dilakukan dan susah sekali ditegur. Mbok ya, klo merokok sudah enaknya sendiri, yaa jangan bagi-bagi lah bahayanya.

Menurut WHO, ada sekitar 60.000 balita yang meninggal setiap tahunnya karena terpapar asap rokok, atau dengan kalimat yang lebih ekstrem, ada 60.000 balita yang meninggal karena keegoisan para perokok.

Maka oleh karenanya, berhentilah merokok. Atau klo anda para perokok tetap ingin merokok, maka berhentilah egois. Isap kenikmatan rokok tersebut tapi jangan bagikan bahayanya ke orang-orang, apalagi kepada mereka yang anda sayangi.

Jangan merokok didekat mereka, jangan merokok diruangan, jangan merokok dirumah, ganti baju dan mandi setelah merokok, barulah anda bercengkrama dengan keluarga anda.

Berhentilah egois.


Thursday, October 3, 2019

Tentang Revisinya UU Perkawinan

DPR dan Pemerintah telah menyepakati direvisinya Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974. Dengan adanya revisinya ini maka batas minimal perkawinan yang sebelumnya 16 tahun untuk perempuan dan 19 tahun untuk laki-laki, menjadi 19 tahun untuk keduanya.

(Sumber Foto - Link)

"RUU Perkawinan akan disahkan dalam paripurna siang nanti. Hasil pembahasan tingkat I di Baleg menyepakati perubahan Pasal 7 yang mengatur tentang usia boleh kawin laki-laki dan perempuan. Disepakati bahwa batasan usia yang dibolehkan melakukan perkawinan antara laki-laki dan perempuan adalah sama, usia 19 tahun," kata Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR Totok Daryanto kepada wartawan, Senin (16/9/2019). Seperti dilansir detiknews.

Kabar ini tentu menjadi kabar baik bagi para pengiat yang menginginkan angka perkawinan pada usia anak bisa ditekan. Perjuangan panjang untuk mengadvokasi banyak pemangku kebijakan akhirnya membuahkan hasil. Termasuk juga BKKBN yang selama ini giat melaksanakan program Pendewasaan Usia Perkawinan (PUP).

Sebelum UU Perkawinan direvisi, Indonesia menempati urutan ke-7 untuk perkawinan pada usia anak secara keseluruhan di dunia dan menempati urutan ke-2 untuk ASEAN. Provinsi Kalimantan Selatan menjadi penyumbang perkawinan anak dengan persentase 39,53% dari total seluruh perkawinan. (sumber). Anak didefinikan sebagai seseorang yang belum mencapai usia 18 tahun, berdasarkan UU nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak.


Dengan adanya revisi ini maka diharapkan untuk tahun-tahun selanjutnya Program Pendewasaan Usia Perkawinan bisa lebih baik lagi.

Sebenarnya tidak ada yang melarang seseorang untuk menikah. Menikah dan membentuk keluarga adalah hak azasi setiap insan di Indonesia. Tapi memang memutuskan menikah terlalu muda bukanlah perkara yang bijak. Kami bukannya tidak senang ada orang yang menikah di usia muda, akan tetapi kita ingin setiap orang yang ada bisa merencanakan secara matang rencana pernikahannya, tidak terburu-buru. Harapannya, setiap keluarga baru yang ada bisa kuat baik secara ekonomi, sosial, psikologis pasangannya serta melahirkan anak-anak yang sehat dan ibunya selamat. Dari keluarga yang kuat, maka akan lahir masyarakat yang kuat, dan dari masyarakat yang kuatlah baru bisa lahir negara yang kuat.

Kami di lapangan sudah terlalu sering mendengar ataupun melihat langsung, mereka yang memutuskan menikah di usia muda, terputus pendidikannya. Termasuk juga kami mengkwatirkan tidak optimal fungsi keluarganya, tidak mandiri (masih tergantung ke orangtua padahal sudah berkeluarga), konflik dalam rumah tangga karena usia mental yang belum siap, dan juga terkait kesehatan reproduksinya dimana di usia sebelum 20 tahun belumlah matang, apabila terjadi kehamilan maka kehamilannya termasuk dalam risiko tinggi.

Memang banyak faktor yang mempengaruhi mengapa seseorang memutuskan menikah muda. Dari latar belakang pendidikan, sosial kultural, ekonomi, serta agama. Hal ini juga dipengaruhi oleh globalisasi dimana banyak informasi yang tidak sesuai (pornografi dll) yang dapat dengan mudahnya diakses oleh anak-anak sehingga menyebabkan anak-anak menjadi lebih cepat "dewasa".

Maka, dengan adanya revisi ini, kita sepatutnya bersyukur karena telah ada kemajuan dari pemangku kebijakan yang pro dalam program Pendewasaan Usia Perkawinan.

Akan tetapi, bukan berarti dengan direvisinya UU Perkawinan maka tugas kami selesai. Hal yang perlu sama-sama kita sepakati : Perubahan peraturan tanpa dibarengi peningkatan pengetahuan dari masyarakat, maka kan membuat peraturan tersebut cenderung dilanggar/dicurangi.

Jangan sampai dengan direvisinya UU Perkawinan malah membuat semakin meningginya angka kejadian pernikahan siri/bawah tangan. Tentu hal ini akan menimbulkan masalah yang baru. Masyarakat harus tetap diedukasi kenapa batas usia perkawinan perlu ditingkatkan dari 16 tahun menjadi 19 tahun, sehingga adanya peraturan ini tidak membuat mayarakat merasa dibatasi hak nya tetapi menjadi sadar bahwa peraturan tersebut bertujuan untuk kebaikan seluruh pihak.

Oleh karenanya kami para Penyuluh KB yang membawakan Program Pendewasaan Usia Perkawinan, akan tetap memberikan Komunikasi, Informasi dan Edukasi tentang kesehatan reproduksi dan materi yang berkaitan lainnya kepada masyarakat. Melalui kelompok kegiatan Bina Keluarga Remaja (BKR) yang menyasar keluarga yang memiliki remaja, serta PIK Remaja yang sasarannya remaja itu sendiri, kita harapkan ada role model ditengah masyarakat itu sendiri sehingga pemahaman yang menyuluruh bisa diterima oleh semua pihak.

Mudah-mudahan kelak perkawinan bisa sesuai dengan usia ideal yang kita semua harapkan, yaitu 21 tahun untuk perempuan dan 25 tahun untuk laki-laki.
Salam KB. Bila terencana, semua pasti jadi lebih mudah.

Wednesday, October 2, 2019

Cara Mencari TFR (Total Fertility Rate)

TFR (Total Fertility Rate) atau Angka Fertilitas Total adalah rumus yang sering digunakan untuk mengetahui jumlah anak yang dipunyai seorang wanita selama masa suburnya per 1000 wanita. TFR seringkali digunakan untuk mengetahui ukuran kelahiran oleh seorang perempuan. TFR juga dipakai oleh BKKBN sebagai ukuran keberhasilan Program Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK).

Rumus TFR adalah sebagai berikut :



Untuk mencari jumlah TFR maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah adalah mencari jumlah ASFR di wilayah yang kita inginkan. ASFR (Angka Kelahiran Menurut Umur) adalah banyaknya kelahiran per 1000 wanita menurut kelompok umurnya dari 15 tahun sampai dengan 49 tahun.

Berikut rumus ASFR :


Contoh penggunaan rumusnya adalah sebagai berikut :


Langkah selanjutnya adalah dengan masukkan rumus TFR :

TFR = 5 x (ASFR)
        = 5 x (49+118+259+120+73+23+20)
        = 5 x 660
        = 3300

Kesimpulan :
Dari 1000 wanita ada 3300 kelahiran atau 3,3 kelahiran tiap wanita di usia 15 - 49 tahun.

Demikian secara sederhana penjelasan cara mencari TFR. Semoga bisa membantu kerja teman-teman di lapangan. Salam KB. Bila Terencana, Semua Pasti Lebih Mudah.

Thursday, August 8, 2019

Thanos dan Isu Kependudukan

(Source - Image)


Spoiler Alert !!!
Banyak membahas story dalam film yang bisa mengganggu kenikmatan menonton bagi yang belum menontonnya.

Tahun 2019 ini, kita telah disuguhi akhir dari saga sebuah film yang telah dibangun selama kurang lebih 11 tahun, yaitu Avenger Infinity War dan Avenger End Game besutan dari Marvel dan Disney. Sebagai penikmat film based-comic, 2 film ini tentu saja menjadi sajian wajib untuk ditonton. Kisah para pahlawan Marvel, seperti Captain America, Iron Man, Doctor Strange dkk menghadapi ancaman sekala cosmic, yaitu Thanos dan pasukannya, menjadi film dengan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah. Tak tanggung-tanggung, dari film terakhir mereka saja, yaitu Avenger End Game, Marvel dan Disney mendapatkan penghasilan kotor 2,7 Milyar Dolar atau sekitar 38,9 triliun rupiah. Jumlah yang tentu saja sangat besar.

Kesuksesan ini tentu sumbangsih dari berbagai faktor, seperti antusiasme dari fans, promosi yang besar-besaran, rasa penasaran dari masyarakat terkait akhir kisah Avenger ini, atau juga karena banyaknya yang ikut-ikutan karena begitu boomingnya kisah yang dibangun dari tak kurang 21 film yang dijalin menjadi satu kisah dengan benang merah yang sama.

Aku sendiri sebenarnya adalah penggemar film superhero, akan tetapi memang akhir-akhir ini terlalu malas menonton film superhero karena formula yang hampir sama untuk semua film besutan Marvel. Akan tetapi sama halnya dengan kebanyakan orang yang menonton film ini, terlalu tanggung apabila tak menonton bagaimana kisah Avenger ini diakhiri.

Tapi alih-alih tertarik dengan kisah para pemeran protagonisnya, film Avenger terakhir (Infinity War dan End Game), malah membuatku lebih tertarik membahas kisah tokoh antagonis utamanya, yaitu Thanos.

Thanos adalah seorang Titan (alien raksasa) yang dalam kisah Infinity War, bermaksud mengumpulkan Infinity Stones, yakni 6 batu dengan kekuatan yang berbeda-beda. Ada Power Stone, Mind Stone, Space Stone, Time Stone, Reality Stone dan Soul Stone. Keenam Infinity Stone tersebut apabila dikumpulkan, akan membuat penggunanya mempunyai kemampuan yang maha dahsyat. Hanya dengan sekali jentikan jari, setengah dari populasi makhluk hidup lenyap. Hanya dengan jentikan jari, eksestensi seseorang menjadi hilang. Yah, hanya dengan gerakan kecil begitu saja.


(Infinity Stones - Image)

Mungkin kebanyakan penonton akan lebih peduli, bagaimana cara para pahlawan mereka menggagalkan usaha Thanos dan kemudian bertepuk tangan ketika Iron Man berhasil mengalahkan Thanos. Akan tetapi, seberapa banyak dari kita yang peduli, kenapa Thanos menginginkan setengah dari populasi makhluk hidup lenyap?

Well, walau sedikit banyak sudah dijelaskan dalam film, izinkan aku untuk menerjemahkannya dalam pemikiranku.

Thanos lahir di planet Titan, sebuah planet yang indah tapi kemudian hancur akibat keserakahan penduduknya. Dari sana ia kemudian menjadi pengembara dari satu planet ke planet lain, sampai akhirnya dia tiba di planet ZeWhoberi, tempat asal Gamora. Sebuah planet yang miskin, sumber daya alam yang sedikit, yang mengakibatkan masyarakatnya kelaparan, bayi-bayi yang lahir kekurangan gizi. Planet yang kondisinya mirip dengan planet asalnya sebelum hancur.

Entah bagaimana pola pikir Thanos terbentuk, bertindak selayaknya juru selamat tapi dengan tindakan yang sangat kejam, ia kemudian membagi penduduk planet tersebut menjadi 2, mereka yang mau menerima Thanos dan mereka yang menolaknya. Mereka yang menolak kemudian dibantai oleh pasukan Thanos dan setengah penduduk yang menerimanya dibiarkan hidup. Pemusnahan massal, setengah dari penduduk ZeWhoberi dibunuh dalam satu waktu.

Masyarakat ZeWhoberi yang populasinya tinggal setengah, kemudian dibiarkan oleh Thanos. Bertahun kemudian, ia kembali dan melihat hasil dari apa yang dia lakukan. Ajaibnya, planet yang dulunya miskin dan kesulitan mencari makan untuk kebutuhan mereka, bisa bertahan dan tumbuh sesuai dengan harapan. Tak ada lagi kelaparan, sumber daya alam kembali banyak dan bayi-bayi tumbuh dengan baik karena gizi mereka terpenuhi. 

Sumber daya alam yang dulunya tak mampu memenuhi populasi yang sangat banyak di planet itu akhirnya bisa mencukupi setelah setengahnya dibantai oleh Thanos.

"Keseimbangan akhirnya tercipta", begitu menurut Thanos.

Thanos kemudian berkelana lagi keberbagai penjuru semesta dan menemukan kasus yang sama diberbagai tempat. Penaklukan-penaklukan pun dilakukan, keseimbangan harus diterapkan. Akan tetapi dia kelelahan, begitu banyak tempat, begitu sedikit waktu. Sampai akhirnya dia mendapatkan info sebuah senjata yang maha dahsyat yang bisa menghilangkan setengah populasi dalam satu waktu. Infinity Stones.

Dari sana, kemudian berlanjutlah pencarian keenam Infinity Stone. Keberhasilan dan kegagalan Thanos kemudian bisa kita lihat sebagaimana yang ditampilkan dalam film.

Menonton sepak terjang Thanos sendiri menurutku menarik, karena berbeda dengan tokoh antagonis pada umumnya yang punya motif atau tujuan "kejam", seperti ingin membalas dendam, ingin menguasai dunia atau sejenisnya, Thanos sebenarnya tidak demikian. Dia boleh dibilang tidaklah "jahat". Hanya saja tindakannya dalam mengejar tujuannya itu yang tidaklah tepat. Membuat alam semesta seimbang dengan membunuh setengah populasinya, tindakan barbar seperti itu dalam sudut pandang apapun tidak dapat dibenarkan. Sifat humanis kita tidak akan dapat menerima tindakannya.

Walaupun demikian, latar belakang dari tujuan Thanos ini menarik untuk kita bahas.

Bila kita melihat kondisi real di dunia kita, paling tidak saat ini ada 7,5 milyar manusia menghuni planet tercinta kita ini. Tumbuh sebanyak 680 juta hanya dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Indonesia sendiri kini menempati urutan keempat populasi terbanyak (dibawah Tiongkok, India dan Amerika Serikat) dengan jumlah penduduk 264 juta. Lebih dari setengahnya berada di pulau Jawa (54,7%).

Pesatnya pertumbuhan penduduk dunia maka diproyeksikan pada tahun 2030 jumlah penduduk mencapai 8.6 milyar, tahun 2050 mencapai 9.8 milyar dan pada tahun 2100, jumlah penduduk dunia akan mencapai di angka 11 milyar. Berdasarkan dari laporan PBB, dalam kurung waktu 2015-2050, setengah dari pertumbuhan penduduk dunia akan terfokus setengahnya di 9 negara, yaitu India, Nigeria, Pakistan, Kongo, Ethiopia, Tanzania, Amerika Serikat, Uganda dan tentu saja... Indonesia. 

(Kepadatan Penduduk - Source)

Apakah kita perlu kuatir dengan angka-angka diatas? 
Ya tergantung seberapa kamu perduli dengan nasib bumi dan anak cucumu kelak.

Bumi tempat berpijak kita ini, adalah satu-satunya tempat di alam semesta dimana kita bisa hidup. Bumi 2/3 nya adalah air dan hanya 1/3 nya saja daratan. Daratan yang ada ini tak pernah bertambah besarnya, begitu-begitu saja, bahkan cenderung terkikis dengan adanya abrasi dan semakin meningginya tinggi permukaan air laut akibat pemanasan global. Ditengah daratan yang semakin sempit ini, manusia memerlukan ruang untuk tempat tinggal, untuk bekerja, untuk lahan pertanian dan perkebunan, juga untuk jalan. Sebagian besar kemudian untuk ruang hijau, tempat binatang dan tumbuhan dengan berbagai variasinya hidup. Manusia juga perlu tempat untuk berekreasi dan hiburan untuk mengisi waktu luang.

Apabila penduduk semakin banyak, maka akan ada lahan peruntukan lain yang harus dikorbankan.

Bisa jadi itu lahan pertanian yang kemudian dijadikan perumahan, hutan-hutan lindung yang kemudian dieksploitasi, air tanah yang semakin dikuras untuk memenuhi kebutuhan air, hutan yang diubah sehingga mengakibatkan konflik antara hewan liar dengan manusia. Belum lagi kita kalkulasikan, misalkan bertambahnya 1 juta manusia maka berapa pula bertambahnya limbah yang dihasilkan dan kemana limbah itu kemudian dibuang. Di laut?

Semakin bertambahnya penduduk maka juga mengakibatkan persaingan dalam dunia kerja menjadi semakin berat. Tidak seimbangnya  penyerapan tenaga kerja oleh industri akibat semakin banyaknya populasi mengakibatkan tingkat pengangguran semakin tinggi. Tingkat pengangguran semakin tinggi bakal meningkatkan angka kejahatan.

Ini yang kami sebut dengan bencana demografi.

Isu-isu kependudukan yang disebutkan diatas akan menjadi keniscayaan apabila tidak kita tanggulangi. Tapi seperti apa solusi yang bisa kita tempuh untuk menanggulanginya?

Pindah planet? No.. no.. no..
Masih terlalu cepat 1000 tahun.

(Ingat Kita Hanya Punya 1 Planet Yang Bisa Ditempati - Source)

Ataukah solusi seperti yang dilakukan Thanos?
Bunuh setengah populasi, dengan itu maka akan semakin banyak ruang?
Tentu saja TIDAK!!!

Tapi percaya atau tidak, apabila bencana demografi ini berlanjut, maka aku menyakini bumi mempunyai mekanisme tersendiri untuk mengurangi jumlah penduduk yang menjadi beban. Mekanisme itu disebut dengan "bencana akibat ulah manusia"
Thanos itu mungkin ada tapi bentuknya tidak seperti raksasa ungu selayaknya di film, tapi berbentuk konsekuensi akibat keserakahan manusia. Semakin banyak manusia mengambil ruang di bumi, maka akan ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh manusia itu sendiri.

Jadi sebelum hal itu terjadi, sebelum bumi ini semakin sesak dan keserakahan manusia semakin menjadi-jadi, mari kita renungkan bersama. Isu kependudukan adalah sebuah isu yang real ada di depan mata kita. Dan kita harus bersama-sama bertanggungjawab akan hal tersebut. Tantangan ini harus bersama kita pikul.

BKKBN dalam hal ini mengajak bersama-sama seluruh lingkup masyarakat untuk menjawab tantangan ini. Melalui Pembangunan Berwawasan Kependudukan, BKKBN ingin penduduk tidak hanya menjadi obyek pembangunan, tetapi juga subyek pembangunan. Pembangunan tak hanya masalah bangunan yang berbentuk fisik, tetapi pembangunan sumber daya manusia juga harus diperhatikan.

Selain itu, melalui perencanaan berkeluarga, BKKBN mendorong agar setiap keluarga yang ada Tidak Telalu Muda Hami. Tidak Terlalu Tua Hamil, Tidak Terlalu Rapat Jarak Anak dan Tidak Terlalu Sering Hamil (4 Terlalu). Dengan perencanaan berkeluarga yang matang, maka derajat kesehatan ibu dan anak bisa digapai setinggi-tingginya, kesejahteraan keluarga juga bisa membaik, juga tingkat pertumbuhan penduduk pun bisa ditekan. 

Dengan perencanaan yang baik, kualitas sumber daya manusia juga akan membaik dan siap untuk menghadapi isu-isu kependudukan di masa mendatang.

Ingat... Kalau Terencana, Semua Jadi Lebih Mudah.


----------------------

Sumber : 1 2 3 

Sunday, August 4, 2019

PIK Remaja Untuk Solusi Kenakalan Remaja

(Source - Image)

Kata orang sih ya, masa remaja adalah masa terindah yang pernah dialami oleh manusia. Ini sih ada betulnya tapi ga selamanya betul. Bisa menjadi indah atau tidak itu tergantung kita mengisi masa remaja kita dengan apa. Apakah dengan sibuk cinta-cintaan, hura-huraan, sibuk main game, atau diisi dengan kegiatan yang bermanfaat?

Seorang remaja memang berada di masa transisi, dimana rasa ingin tahu yang besar menjadi sesuatu yang niscaya dialami oleh orang-orang yang berada di fase ini. Di fase ini pulalah, banyak perubahan fisik baik secara anatomis ataupun secara fisiologis. Kematangan organ reproduksi serta fungsinya juga terjadi di fase ini. Masa-masa puber, lebih gampangnya kita sebut begitu.

Remaja ingin diakui, itu kata mereka. Remaja ingin didengar suaranya. Remaja ingin diberikan kebebasan, karena mereka sudah merasa cukup tahu dengan apa yang mereka perbuat. Remaja itu, tak mau diatur karena mereka pikir mereka sudah cukup dewasa.

Dan memang banyak pada akhirnya dari mereka banyak yang berprestasi. Juara nasional bahkan internasional. Namanya masuk koran karena sumbangsihnya kepada negara. Sukses di usia muda dan mempunyai masa depan yang cerah. Akan tetapi mereka-mereka yang sukses di usia remaja ini, hanya minoritas ditengah sorotan kepada dunia remaja lainnya.

Belum lama ini ada berita heboh, seorang remaja tewas dibacok setelah sebelumnya janjian tawuran di medsos (sumber). Sebelumnya juga viral, anak SMP mengeroyok seorang cleaning service di sekolah (sumber). Juga ada berita viral berita remaja lindas kuburan dengan sengaja (sumber). Kemudian juga ada berbagai berita yang mengabarkan berbagai kejadian hamil di luar nikah dan aborsi yang dilakukan remaja (sumber). Atau mungkin kita juga akan miris mendengar berita dimana dengan pongahnya seorang pelajar merokok di kelas, di depan gurunya saat beliau mengajar (sumber).


(Source - Image)

Belum lagi data yang dilansir oleh KPAI bahwa tawuran terjadi sebanyak 14% dan semakin meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya (sumber). Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada 2017 silam malah menunjukkan data yang lebih memprihatinkan, 2% remaja perempuan dan 8% remaja laki-laki pada rentang usia 15-24 tahun, telah melakukan seks pra nikah. Sebanyak 11% diantaranya mengaku mengalami kehamilan tidak diinginkan (sumber).

Remaja memang banyak yang berprestasi, tapi apabila dibandingkan dengan berita negatif terkait kenakalan remaja, itu hanyalah seperti buih di lautan.

Hal ini harus menjadi perhatian bersama karena di bahu merekalah nantinya negara ini akan ditopang. Bonus demografi yang akan kita dapatkan di 2030, itu mungkin bukan lagi masa-masa kita para orangtua. Mungkin itu akan menjadi masanya bagi mereka yang sekarang masih remaja. Bila kualitas remaja kita semakin memburuk, alih-alih mendapatkan bonus demografi, bisa-bisa kita mendapatkan bencana demografi. Bila kita gagal mendapatkan bonus demografi, maka visi Indonesia Emas 2045 tinggallah mimpi.

Untuk itu marilah kita sama-sama meletakkan perhatian kepada remaja dan mengetahui penyebabnya serta kita harus lebih mendalami permasalahan kenakalan remaja ini. 

Seperti yang disinggung sebelumnya, masa remaja adalah masa pubertas dimana salah satu ciri yang paling kelihatan adalah sikap pemberontak yang tiba-tiba muncul. Secara ringkas kenapa muncul sikap pemberontak ini karena 2 hal :
1. Krisis identitas
2. Kontrol diri yang lemah

Seorang remaja akah mengalami krisis identitas karena dimasa inilah dia akan menghadapi kondisi dimana dia harus membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan tingkah laku yang tidak dapat diterima. Kontrol diri yang lemah akan terseret dalam prilaku yang kita sebut sebagai "nakal" (Dadan Sumara dkk, 2017)

Selain faktor internal tadi, faktor eksternal seperti hubungan dengan keluarga, pendidikan, pengaruh lingkungan juga berperan dalam kenakalan remaja.

Jadi bisa kita simpulkan bahwa kenakalan remaja terjadi karena ada faktor dalam diri remaja itu sendiri yang kemudian lingkungan disekitarnya tidak mendukung untuk mengindetifikasi permasalahan itu.

Solusi Yang Kami Tawarkan

Remaja yang bimbang akan selalu mencari tempat yang nyaman baginya. Bila ia terus menerus mendapatkan penolakan dari orangtuanya atau lingkungan sekitarnya, maka ia akan mencari lingkungan yang mungkin bisa mengakuinya. Sayangnya seringkali ketika sudah berada dalam kondisi seperti ini, kondisi lingkungan (pertemanan ) yang buruk lah yang menerimanya.

BKKBN yang mejadi ujung tombak peningkatan kualitas SDM melalui perencanaan dan pembangunan keluarga, mempunyai wadah kelompok kegiatan yang bernama Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK - Remaja). Secara sederhana, PIK Remaja adalah wadah dari, oleh dan untuk remaja untuk menghasilkan remaja yang bisa menjadi role model bagi remaja lainnya melalui kegiatan dan pembimbingan secara rutin.

PIK Remaja dibentuk melalui jalur masyarakat atau melalui jalur pendidikan kemudian dibina oleh Penyuluh KB atau Petugas Lapangan KB yang nantinya akan menginformasikan Program Genre melalui Triad KRR yaitu Katakan Tidak Pada Seks Pranikah, Katakan Tidak Pada Menikah di Usia Dini dan Katakan Tidak Pada Napza. Selain itu juga para remaja yang berada di PIK Remaja ini akan diberikan life skill dan pengetahuan yang sesuai untuk kehidupan dewasa mereka kelak.

Kami sadar bahwa bilamana kita berteman dengan penjual parfum, maka sedikit banyak kita akan terpercik juga harumnya parfum. Sebaliknya, apabila kita berteman dengan seseorang yang suka main kotor-kotor, maka kelak kita juga akan ikut kotor.

Suatu lingkungan yang sesuai akan menjadi hal yang vital bagi kehidupan remaja yang penuh dengan krisis identitas dan jiwa pemberontak yang tinggi. Dalam PIK Remaja akan kita arahkan mereka dengan kegiatan positif sehingga tak ada waktu untuk melakukan kegiatan yang sia-sia. Waktu luang yang dimiliki akan dimanfaatkan untuk kegiatan positif.

Berikut kegiatan-kegiatan yang kami selenggarakan untuk memfasilitasi PIK Remaja yang ada di wilayah binaan kami :


(Pembinaan Oleh Penyuluh KB di Balai - Doc Pribadi)


(Menggunakan Genre Kit untuk Pola Permainan - Doc Pribadi)


(Diarahkan Sesuai Bakat, Seperti Paduan Suara Misalnya - Doc Pribadi)



(Berkesempatan Mengikuti Acara Seminar/Diskusi Terarah Dengan Berbagai Narasumber - Doc Pribadi)


(Ada Pula Pemilihan Duta Genre - Source)


(Berkumpul Bersama Pengurus PIK Remaja se Indonesia di Genre Educamp - Source)

Tentu masih banyak kegiatan lagi yang bisa dikerjakan.Tentu saja semua kegiatannya have fun dan bermanfaat agar gelora muda didalam diri remaja bisa tersalurkan dengan benar. Bila kalian ingin bergabung dengan PIK Remaja yang ada dilingkungan kalian, yuk datang ke Balai Penyuluhan KB yang ada di kecamatan agar bisa ditindaklanjuti oleh para penyuluh KB.

Bersama remaja, meraih Indonesia Emas!!!

Saturday, August 3, 2019

Review Film - Justice League (2017)

(Source : Image)

Spoiler Alert!!!
Bertahun setelah film ini rilis, gema #releasesnydercut masih terdengar, kali ini mari kita bahas salah satu film superhero paling mengecewakan yang pernah ada.

---------------

Sebelumnya aku harus mengklarifikasi pernyataan sendiri di artikel Wonder Woman. Bukan rating, ternyata bukan rating momok terbesar DCEU. Momok terbesar DCEU ternyata ada dalam diri DCEU itu sendiri. Atau kalau mau lebih spesifik, WB lah musuh terbesar yang membuat DCEU terpuruk.

Bila kita kilas balik, sejak 2013, ada sekitar 7 film yang sudah ada dalam semesta DCEU. Film-film itu yaitu :
1. Man of Steel (2013) - 55%
2. Suicide Squad (2016) - 26%
3. Batman v Superman : Dawn of Justice (2016) - 27%
4. Wonder Woman (2017) - 92%
5. Justice League (2017) - 40%
6. Aquaman (2018) - 65%
7. Shazam (2019) - 91%

See??
Hanya Wonder Woman dan Shazam lah yang mempunyai rating tinggi menurut Rotten Tomatoes. Sisanya untuk menggapai nilai 70% pun terlalu susah. Terlalu banyak tomat busuk yang dilemparkan.

Rating dilain pun, semacam seperti IMDb pun menunjukkan hal yang kurang lebih lama. Walaupun cenderung tak "sekejam" Rotten Tomatoes, tapi rating deretan film DCEU pun tak bisa juga dibilang bagus.

Jadi dimana kah salahnya?

Pada awalnya banyak yang mengira bahwa penunjukan sutradaranya lah yang bermasalah. Semisal kritik penonton kepada Zack Snyder. Sutradara dari 3 film DCEU ini yaitu Man of Steel, BvS dan Justice League dinilai tidak bisa membawa DCEU sesuai dengan imajinasi "fans", mempunyai storytelling yang kacau dan membawa dimensi yang terlalu kelam.

(Zack Snyder, yang sebelumnya sukses dengan film 300 dan Watchmen - Source)

Zack, menurut pandangan pribadiku sendiri, bukanlah sutradara yang buruk. Dia sangat berpengalaman. Bahkan superhero bukanlah pengalaman pertamanya dalam genre tersebut. Watchmen, film dengan tema superhero, berhasil dan sukses menghadirkan pujian. Man of Steel sangat bagus. Well aku cuma nonton BvS versi ultimate, aku tak pernah sempat nonton versi bioskop, dan ku nilai BvS itu juga luar biasa. Tapi bagaimana dengan Justice League?

Setelah aku menonton ke sekian kalinya film Zack, aku harus bilang, Justice League sepertinya bukanlah film besutan Zack. Dan memang, Justice League adalah film yang belum selesai dan yang seperti yang kita tahu semua, film ini diselesaikan oleh Joss Whedon yang sebelumnya pernah menyutradarai Avengers.

Joss Whedon bukanlah aktor utama kenapa Justice League menjadi sangat mengecewakan. Sudah menjadi rahasia umum, para petinggi WB terlalu ikut campur dalam pembuatan film. Silau dengan kesuksesan Marvel dan formulanya, para petinggi WB malah memaksa filmnya dengan menggunakan formula yang sama dengan Marvel. Hasilnya? Yah film sekacau Justice League inilah hasilnya.

Beberapa hal kenapa bisa dibilang Justice League menjadi film yang kacau dan sangat mengecewakan :

1. Perubahan karakter Bruce Wayne aka Batman.

(Source - Image)

Di film BvS, kita bisa merasakan Batman yang penuh kemarahan, gelap dan kelam yang tak segan-segan dalam tindakannya. Tapi di Justice League, Batman ini seakan berubah karakternya menjadi.... hmmm funny?


2. Kehadiran Steppenwolf yang mengecewakan.

(Source - Image)

Bukan saja CGI yang buruk layaknya seperti kualitas game zaman dahulu. Steppenwolf tidak menghadirkan intimidasi yang harusnya ada dalam karakter seorang villain utama. Ini juga diperparah dengan akhir dari Steppenwolf yang ketakutan dan diserang oleh Parademons nya sendiri. Ini sangat non sense dan mengecewakan.
Lebih lebih bikin sakit hati lagi, menurut Zack sendiri, Steppenwolf dalam rencananya, dipenggal oleh Wonderwoman, kepala masuk ke portal dan bergelinding ke arah Darkseid. Good job WB, kau sudah merusak fantasi terliar fans DC.


3. Kumis Superman

(Source - Image)

Seperti yang diketahui, banyak reshoot yang dilakukan Joss Whedon. Sayangnya disaat bersamaan Henry Cavill sang aktor Superman sedang syuting Mission Imposible. Henry Cavill dilarang mencukur kumisnya karena karakternya di Mission Imposible memang berkumis. WB mensiasatinya dengan menggunakan CGI untuk menghilangkan kumisnya. Sangat disayangkan usaha tersebut tak sesuai dengan harapan. Bukan saja hasil penghilangan CGI aja sih yang bikin bete, adegan Superman yang dihilangkan kumisnya juga mengecewakan sehingga menurutku berpikir, emang perlu banget ya di reshoot?


4. Adegan pembuka yang sangat buruk.


(Source - Image)

Masih melanjutkan dari poin ketiga. Adegan pembuka dimana Superman hadir kemudian diwawancarai dan direkam (dengan HP?) oleh dua orang anak menampilkan sosok Superman dengan kumis yang telah dihapus CGI. Hasilnya ga terlalu mulus dan sangat kentara, alih-alih bagus dan memberikan pesan pertama yang kuat, adegan pembuka ini malah jadi tertawaan penonton.

Akan tetapi, menurut aku pribadi, sekali menurut aku, adegan pembuka ini bisa dihilangkan dan tak perlu ada reshoot. Kenapa?


Ok sangat jelas bahwa adegan pembuka ini dibuat oleh Joss Whedon. Entah khilaf atau memang tak awas, adegan ini sesungguhnya membuat banyak pertanyaan dan membuat banyak kebingunan. Mari ku jelaskan :

Sosok Superman pertama kali muncul ketika ada invasi General Zod, saat itu Zod memberikan tenggat waktu agar menyerahkan Superman. Masyarakat saat itu tak ada yang tahu bahwa ada Superman, tak ada yang sadar ada sosok alien hidup disekitar mereka. Hanya ada rumor kecil ditengah masyarakat tentang sosok super yang sering kali menolong mereka. Superman saat itu belum secara aktif dan terang-terangan melakukan kegiatan kepahlawanannya. Hanya Lois Lane yang saat itu tahu karena pernah menguntit Superman masuk ke pesawat Kripton.

Adegan diakhiri kemudian dengan bentrok dua super alien yang memporak porandakan sebuah kota. Hancurnya kota dan banyaknya korban yang berjatuhan, membuat Bruce Wayne marah dan menaruh waspada kepada sosok Superman. Sadarkah kalian, selama event itu berlangsung, sosok sekaliber Bruce Wayne dengan berbagai gadget canggih tidak bisa mengetahui siapa sosok Superman. Jangankan sosoknya, rekaman gambar dan wajah yang didapat pun sangat kabur/tidak jelas.

Selama kejadian di BvS, tak ada satupun momen dimana ketika Superman melakukan aksi penyelamatan, dia direkam dan kemudian tersebar ke khalayak umum. Semua orang yang dia selamatkan nampaknya terpana dengan sosoknya sehingga terlupa untuk mengambil rekaman atau paling tidak foto dari Superman. Hingga akhir cerita BvS, warga dunia masih tidak tahu bagaimana rupa dari Superman.

(Semua Orang Terpana Dengan Kehadirannya, dan Mungkin Juga Aku - Source)

Lelucon di internet yang selama ini ada, Superman dalam hal ini Clark Kent, tidak bisa dikenali orang karena dia pake kacamata sebenarnya tidak benar. Sebenarnya karena tak ada rekaman aksi Superman yang membuat orang sadar bahwa Clark Kent lah sosok dibalik pahlawan berjubah itu. Jadi, berkacamata atau tidak, sebenarnya tidak ngaruh. Ini diperkuat dengan adegan akhir Man of Steel dimana Lois Lane langsung mengenali Clark Kent yang saat itu sedang berkacamata. Atau juga adegan pertemuan pertama kali Bruce Wayne dan Clark Kent di pestanya Lex Luthor. Kalian pikir aja, Batman yang terkenal sebagai detektifnya superhero, masa sih ga ngenalin Superman klo wajahnya sudah ada tersebar dimana-mana.

Superman dalam dunia DCEU digambarkan sebagai sosok pahlawan yang hanya desas desusnya saja yang didengar, wajahnya yang misterius dan tidak diketahui sama sekali. Semua itu tergambar dengan jelas di film Man of Steel dan BvS.

Nah, dengan pemikiran seperti itu, menurut kalian, adegan pembuka Justice League yang memperlihatkan sosok Superman direkam secara jelas, berapa di timeline kapan?

Inilah kenapa dibilang adegan pembuka di Justice League disebut buruk. Selain karena CGI nya bikin sakit mata, merusak penggambaran Superman yang tak pernah diketahui sosoknya dalam film-film sebelumnya, juga karena sebenarnya adegan tersebut ga penting-penting amat. Bukannya bikin impresif pertama yang memukau, malah bikin mood jatuh dari awal.

------------------------------------

Sejak gagalnya film Justice League ini, baik dari Zack sendiri ataupun krunya, memberikan pernyataan baik langsung ataupun tak langsung, bahwa film yang kita lihat ini bukanlah visi sebenarnya, buka produk final dari yang mereka inginkan. Bahwa Snyder Cut itu nyata.

Akan tetapi, rilisnya Snyder Cut juga ga berarti film Justice League bisa terselamatkan.

DCEU merilis 2 film pasca Justice League, yaitu Aquaman dan Shazam. Keduanya diterima baik oleh pasar. Tapi berita mundurnya Ben Affleck dari Batman, recast beberapa aktor Suicide Squad, berbagai ketidakpastian jadwal seperti Flash yang terlihat tidak ada kemajuan sama sekali, dan rumor Henry Cavill yang tidak diajak lagi menjadi Superman, betul-betul membuat para fans kuatir terhadap masa depan universe ini.

Para fans sudah banyak berteriak, selamatkan DCEU, rilis Synder Cut, rilis Man of Steel 2, dll dan sebagainya.
Tapi apakah suara itu didengar oleh para petinggi WB?

Thursday, August 1, 2019

Saya Kembali :')


Well, entah berapa lama sudah blog ini sunyi senyap. Tak ada postingan terbaru, tak ada lagi tulisan. Terakhir kali blog ini update Maret 2018. Itu artinya, 1 tahun 5 bulan sejak terakhir aku menulis di blog ini. Bahkan klo boleh jujur, aku sudah kehilangan minat menulis sejak 2017 akhir. Hal tersebut karena aku bosan, jenuh.

Yah itu sih sebenarnya bukan alasan utama. Sebenarnya yang memancing aku vakum dari blog ini adalah karena aku merasa sangat lelah dengan rutinitas pekerjaan. Dalam pekerjaan menurutku seperti tak ada yang baru, berangkat pagi pulang sore, begitu saja setiap harinya. Dari senin sampai jumat, kemudian berulang lagi di hari senin, berakhir lagi di hari jumat. Begitu saja. Rutinitas ini benar-benar membuatku bosan sehingga membuat aku males melakukan rutinitas lainnya, seperti menulis di blog ini misalnya.

Tapi seperti pepatah yang bilang "semakin gelapnya malam, maka semakin dekat pula dengan cahaya fajar". Titik kebosanan ini akhirnya mencapai titik puncaknya dan percaya atau tidak, malah dalam kondisi seperti itu aku menemukan titik terang yang membuatku berkeinginan menulis lagi. Aku merasa bila aku tak berbuat sesuatu, bila aku tak memulai membuat tulisan lagi, maka mungkin aku akan terjebak selamanya dalam situasi ini. Kekuatiran inilah yang malah membuatku beranjak dan berkata "Aku harus berubah"

Oke, berubah, tapi berubah seperti apa?
Jangan-jangan ntar balik lagi vakum menulis.
Ingat lho, blog ini beberapa kali vakum/hiatus. Ntar malah kejadian lagi.

Hmmm yah itu betul tapi kurasa kali ini akan berbeda. Aku merasa aku merasakan semangat lagi dalam menulis karena aku tahu alasan sebenarnya kenapa aku harus menulis lagi. Dulu aku mungkin terlalu memaksakan kehendak. Menulis berbagai tema dengan berbagai jenis tulisan. Aku mungkin terlalu memaksakan kehendak bahwa isi blog ini harus begini begitu sehingga aku malah kehilangan jati diri dari blog ini, slogan yang ku buat untuk blog ini "Tempat Kita Saling Berbagi"

Berbagi... iya berbagi.
Bagaimana mungkin aku berbagi untuk sesuatu yang tidak aku memiliki, sesuatu yang tak aku senangi, sesuatu yang bukan asli berasal dari aku?

Oleh karenanya aku berpikir dan memutuskan, bahwa blog ini adalah tempat untuk berbagi dan untuk berbagi, maka haruslah itu berasal dari yang paling dekat dengan aku. Apa yang aku geluti, apa yang aku senangi, apa yang ingin kalian, para sahabatku, dapatkan dari mengunjungi blog ini.

Iya, inilah yang harusnya aku lakukan. Dan pada akhirnya aku memutuskan dari hari ini, semoga itu bisa menjadi rutinitas baruku (lagi)

Itulah, kenapa aku kembali :')