Friday, November 4, 2016

Sebuah Surat Untuk Pak Presiden #belaquran #411


Yang terhormat Pa Presiden, 2 tahun mu harus diakui banyak perubahan baik yang anda lakukan terutama bagian pembangunan infrastruktur...

Bangga dan senang ketika mendengar bapak begitu banyak meresmikan bangunan infrastruktur terutama didaerah-daerah yang belum dijamah sebelumnya...
Bangga dan senang pula ketika reformasi birokrasi dilakukan secara baik, sebagai ASN juga merasakan dampaknya...


Bapak sangat perhatian, bahkan pungli yg "hanya" ratusan ribu saja bapak berantas...
Saya pun bangga dan senang ketika bapak sangat dekat dengan masyarakat, dengan anak-anak...


Tapi Pak Presiden yang saya banggakan...
Tidak semua hal berjalan dengan baik...


Masa-masa pemerintahan bapak juga banyak permasalahan yang terjadi dan sebagai kepala negara, kadang permasalahan itu perlu kehadiran bapak...


Menyoal aksi damai 4 November kemarin, kita semua tau bakal banyak massa yang akan hadir ke Jakarta. Para alim ulama, kyai, ustadz akan hadir disana beserta dengan para santri. Tuntutan mereka hanyalah ingin sang penista agama diadili oleh hukum yang berlaku...

Tak ada unsur rasial, tak ada unsur politik...

Mereka hadir karena panggilan jiwa ketika sucinya Al Qur'an telah direndahkan oleh orang yang tak paham akan kesuciannya...


Dan Pak Presiden, kita semua tau bahwa aksi ini sangat rentan disusupi oleh provokator dan perusuh yang ingin damainya negeri ini hilang...

Disusupi oleh orang yang punya kepentingan politik...


Bahkan sangat rentan disusupi oleh orang-orang yang berniat jahat ingin merusak imej Islam dimata media...


Sejak jauh-jauh hari hal ini bisa dicium. Saya sendiri bisa melihat lewat medsos begitu banyak pancingan agar aksi damai 4 November menjadi rusuh. Hinaan dan ejekan oleh mereka, yang asalkan bapak tau, banyak juga yang datang dari pendukung bapak.

Saat-saat inilah sebenarnya kehadiran bapak sangat diperlukan.
Suasana genting. Bahkan Siaga 1 sudah diberlakukan.


Tapi...

Kemana bapak ketika para massa telah berkumpul di Jakarta?


Dengan segala potensinya, tak bisakah bapak mendatangi mereka sebentar?
Tadinya saya berpikir, bapak dengan keberanian dan jiwa kenegarawan yang tinggi akan datang ke Istiqlal, sholat jumat disana, bersua dengan para alim ulama dan menenangkan para demonstran...

Tapi tidak bapak lakukan...

Ya saya paham, bapak presiden, bapak punya tugas yang sudah diagendakan jauh-jauh hari...
Kita bicara masalah yang harus diprioritaskan pak...

Kemudian saya berharap ketika tugas bapak selesai, bapak akan hadir dihadapan para demonstran...

Tapi tidak bapak lakukan...

Kata media, bapak tidak ingin. Ah saya tidak percaya. Mana mungkin seorang presiden tidak mau mendatangi rakyatnya yang sedang terluka.
Benar kan pak?


Pada akhirya, aksi yang tadinya damai hingga sore, berakhir ricuh pada malamnya. Entah siapa yang memulai. Tapi dari pernyataan resmi bapak, aksi ini dimasuki oleh orang-orang dengan tujuan politis...

Nah bapak tahu kan?
Bapak sadar...
Tapi kemana bapak?


Sebagai kepala negara, pimpinan rakyatnya, kenapa tak ada tindakan preventif agar kericuhan yang terjadi bisa dihindari...


Kasihan mereka pak, kasihan alim ulama kita...

Waktu tak bisa diputar kembali...
Aksi damai berakhir ricuh...
Mau tak mau, Islam disudutkan...
Mereka yang tak suka Islam kemudian mengejeknya...
Para media sekuler melahapnya...


Dan kami disini hanya bisa berkeluh kesah...
Memohon doa kepada Dzat yang Maha Adil...

Tolonglah negeri ini...
Hadirkanlah keadilan di negeri ini
Karena dari keadilan lah kedamaian yang hakiki muncul...


Banjarmasin, 4 November 2016
Dari rakyatmu

0 comments:

Post a Comment