Wednesday, August 26, 2015

Macam-Macam Sabar



Sabar itu ada batasnya, begitu kata orang-orang sekitar...
Padahal menurut aku pribadi, bukan sabar namanya bila ada batas.
Yang sering kita lupakan bahwasanya dunia ini bukanlah tempat peristirahatan, bukan rumah, akan tetapi sebuah "ladang" dimana kita diuji sebelum kita dinilai apakah pantas memasuki surga-Nya atau malah gagal dan ditempatkan di neraka-Nya.
Sahabat, ingatlah bila Allah SWT mencintai umat-Nya maka Dia akan mengujinya. Bila kita sabar menghadapinya maka kita akan dimasukkan kedalam golongan orang-orang yang mulia (mujtaba). Bukankah kita semua ingin masuk dalam golongan tersebut? Lalu mengapa kita harus membatasi sabar?

Sabar sendiri ada tiga macam, yaitu sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat dan sabar dalam menghadapi takdir. Sabar secara bahasa berarti al habsu yaitu menahan diri. Sedangkan secara syar’i, sabar adalah menahan diri dalam tiga perkara : (1) ketaatan kepada Allah, (2) hal-hal yang diharamkan, (3) takdir Allah yang dirasa pahit (musibah). Inilah tiga bentuk sabar yang biasa yang dipaparkan oleh para ulama.
Dibawah ini akan kita coba bahas masing-masing dari tiga bentuk sabar tersebut :

1. Sabar dalam Ketaatan


Sabar dalam ketaatan kepada Allah yaitu seseorang bersabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah. Dan perlu diketahui bahwa ketaatan itu adalah berat dan menyulitkan bagi jiwa seseorang. Terkadang pula melakukan ketaatan itu berat bagi badan, merasa malas dan lelah (capek). Juga dalam melakukan ketaatan akan terasa berat bagi harta seperti dalam masalah zakat dan haji. Intinya, namanya ketaatan itu terdapat rasa berat dalam jiwa dan badan sehingga butuh adanya kesabaran dan dipaksakan.

Allah Ta’ala berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.” (QS. Ali Imron : 200).

Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam Syarh Riyadhus Sholihin ketika menjelaskan ayat di atas, beliau rahimahullah mengatakan, ”(Dalam ayat ini) Allah Ta’ala memerintahkan orang-orang mukmin sesuai dengan konsekuensi dan besarnya keimanannya dengan 4 hal yaitu: shobiru, shoobiru, robithu, dan bertakwalah pada Allah.
Shobiru berarti menahan diri dari maksiat. Shoobiruu berarti menahan diri dalam melakukan ketaatan. Roobithu adalah banyak melakukan kebaikan dan mengikutkannya lagi dengan kebaikan. Sedangkan takwa mencakup semua hal tadi.”

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan pula bahwa dalam melakukan ketaatan itu butuh kesabaran yang terus menerus dijaga karena :

(1) Ketaatan itu akan membebani seseorang dan mewajibkan sesuatu pada jiwanya,
(2) Ketaatan itu terasa berat bagi jiwa, karena ketaatan itu hampir sama dengan meninggalkan maksiat yaitu terasa berat bagi jiwa yang selalu memerintahkan pada keburukan.

2. Sabar dalam Menjauhi Maksiat 


Ingatlah bahwa jiwa seseorang biasa memerintahkan dan mengajak kepada kejelekan, maka hendaklah seseorang menahan diri dari perbuatan-perbuatan haram seperti berdusta, menipu dalam muamalah, makan harta dengan cara bathil dengan riba dan semacamnya, berzina, minum minuman keras, mencuri dan berbagai macam bentuk maksiat lainnya.

Ini mungkin sulit karena seringkali yang mengajak kita dalam kemaksiatan adalah orang-orang yang kita kenal ataupula karena kondisi lingkungan dan peraturan yang memaksa kita untuk memakan riba, berzina walau itu hanya zina mata, dan lain sebagainya. Oleh karenanya seseorang harus menahan diri dari hal-hal semacam ini sampai dia tidak lagi mengerjakannya dan ini tentu saja membutuhkan pemaksaan diri dan menahan diri dari hawa nafsu yang mencekam.

3. Sabar Menghadapi Takdir yang Pahit


Takdir Allah SWT itu ada dua macam, ada yang menyenangkan dan ada yang terasa pahit. Untuk takdir Allah yang menyenangkan, maka seseorang hendaknya bersyukur. Dan syukur termasuk dalam melakukan ketaatan sehingga butuh juga pada kesabaran dan hal ini termasuk dalam sabar bentuk pertama di atas. Sedangkan takdir Allah yang dirasa pahit misalnya seseorang mendapat musibah pada badannya atau kehilangan harta atau kehilangan salah seorang kerabat, maka ini semua butuh pada kesabaran dan pemaksaan diri. Dalam menghadapi hal semacam ini, hendaklah seseorang sabar dengan menahan dirinya jangan sampai menampakkan kegelisahan pada lisannya, hatinya, atau anggota badan.

Dari Abu Yahya, yaitu Shuhaib bin Sinan Ra., Rasulullah SAW bersabda : "Amat mengherankan sekali keadaan orang mu'min itu, sesungguhnya semua keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang sedemikian itu tidak akan mendapatkan kelapangan hidup, iapun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya, sedang apabila ia ditimpa kesukaran - yakni yang merupakan bencana - iapun bersabar dan hal inipun adalah merupakan kebaikan baginya." (HR. Muslim)

Seorang muslim ketika dia ditimpa bencana dan dia tetap bersabar akan itu, maka sungguh itu suatu kebaikan baginya karena sebagaimana firman Allah SWT :

إِلا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَئِكَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

“Kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.”  (Qs. Hud: 11)

Demikian apa yang bisa ku bagikan kepada sahabat-sahabat kali ini. Sungguh sebagai hamba yang lemah ini, sabar merupakan sesuatu yang sulit bagi pribadi ini. Tapi semoga kita dimudahkan, dibesarkan hati kita dan dimuliakan diri kita yang bisa bersabar terhadap apa yang kita hadapi kedepannya.

Wassalam...

-------------------------------------------------------------

Sumber

0 comments:

Post a Comment