Friday, March 11, 2016

Mengenang Sang Revolusioner, Che Guevara


Wajah tokoh pemberontak asal Cuba ini sudah sangat terkenal di seluruh penjuru dunia. Mulai dari kaos, tembok-tembok bahkan di minuman keras. Hampir seluruh orang telah mengenal wajah ini, tetapi jarang yang paham siapa dia sebenarnya.

Che Guevara dilahirkan dengan nama Ernesto Guevara Lynch de la Serna di Argentina pada tanggal 14 Juni 1928. Ia lahir secara prematur dari sebuah keluarga yang cukup berada. Sejak kecil Ernesto menderita penyakit asma yang membuatnya sangat menderita. Keluarganya terpaksa harus pindah ke beberapa tempat di Argentina agar Ernesto bisa hidup di daerah yang hangat agar asmanya tidak kambuh. Tetapi meskipun asmanya sering kambuh ia adalah anak atletis yang menyukai olah raga dan aktivitas fisik. 


Wajah tokoh pemberontak asal Cuba ini sudah sangat terkenal di seluruh penjuru dunia. Mulai dari kaos, tembok-tembok bahkan di minuman keras. Hampir seluruh orang telah mengenal wajah ini, tetapi jarang yang paham siapa dia sebenarnya.

Che Guevara dilahirkan dengan nama Ernesto Guevara Lynch de la Serna di Argentina pada tanggal 14 Juni 1928. Ia lahir secara prematur dari sebuah keluarga yang cukup berada. Sejak kecil Ernesto menderita penyakit asma yang membuatnya sangat menderita. Keluarganya terpaksa harus pindah ke beberapa tempat di Argentina agar Ernesto bisa hidup di daerah yang hangat agar asmanya tidak kambuh. Tetapi meskipun asmanya sering kambuh ia adalah anak atletis yang menyukai olah raga dan aktivitas fisik. 

Saat remaja ia sangat menyukai catur dan sering ikut turnamen catur. Ernesto juga sangat suka membaca. Di rumahnya ada sekitar 3.000 buku yang habis dilahapnya. Ia sangat tertarik pada puisi dan sastra. Juga tertarik pada filosofi dan tulisan-tulisan sosial.

The Motorcycle Diary

Setelah lulus sekolah, Ernesto memasuki universitas dan mengambil jurusan kedokteran di University of Buenos Aires. Jiwa petualangnya membuat Ernesto sering cuti kuliah dan mengunjungi tempat-tempat yang indah di Amerika selatan. Ia kemudian melakukan sebuah perjalanan panjang selama 9 bulan mengelilingi negara-negara Amerika Selatan bersama sahabatnya, Alberto Granada, dengan menaiki sebuah sepeda motor. Petualangan itu diabadikannya dalam sebuah catatan harian, yang kemudian dicetak dalam bentuk buku berjudul “The Motorcycle Diary” dan sempat difilmkan juga.


Dalam perjalanan itu, Ernesto melihat banyak ketimpangan dan ketidakadilan sosial. Jiwanya yang pemberontak serta filsafat yang dipelajarinya dari buku-buku menyembuhkan api kemarahan di dalam hatinya. Ketika kembali, Ernesto yang dulunya periang dan gembira, mulai berubah menjadi pemikir dan pendiam. Saat pulang dari perjalanan ini, Ernesto menamatkan kuliahnya dan ia lulus sebagai seorang dokter.

Perlawanan Nasib Buruk Terhadap Rakyat Jelata

Tetapi hasrat membara dalam jiwanya saat melihat ketidakadilan membuatnya meninggalkan cita-citanya sebagai seorang dokter. Ia kemudian lebih tertarik pada pergerakan sosial, dan bahkan berpikir untuk melakukan perlawanan bersenjata. Ia kembali melanjutkan petualangannya mengelilingi negara-negara Amerika Selatan. Berharap untuk dapat melakukan sesuatu untuk mengubah nasib rakyat jelata. 


Ia sempat tinggal sebentar di Guatemala dan mendukung reformasi yang dilakukan presiden Guatemala saat itu, tetapi reformasi ini gagal dan presiden Guatemala dijatuhkan. Ernesto yang merupakan pendukung presiden ini pun menjadi buron. Petualangannya di Guatemala inilah yang membuatnya yakin bahwa perjuangan melawan penindasan tidak bisa melalui reformasi politik, melainkan perjuangan bersenjata. Di sini jugalah ia mendapat julukan “Che” yang sama dengan “bro” dalam istilah Argentina.

Mulai Angkat Senjata

Che kemudian bergabung dengan sebuah gerakan pemberontakan di Kuba yang direncanakan di Meksiko. Saat itu Fidel Castro yang merupakan seorang pemberontak asal Kuba, membuat kamp latihan di Meksiko bagi para pemberontak asal Kuba. Che kemudian berkenalan dengan Fidel dan mengagumi pemikiran-pemikrannya. Mereka semakin dekat dan kemudian berjuang bersama dan pergi ke Kuba untuk berperang. Saat itu Che mendapat posisi sebagai juru medis. 


Saat itu Kuba dipimpin oleh presiden Fulgencio Batitsta yang korup dan merupakan tangan kanan Amerika. Rombongan yang dipimpin Fidel berangkat dari Meksiko dengan menumpangi sebuah kapal kecil. Kapal itu diserang oleh pasukan pemerintah Kuba, sehingga dari 82 orang, hanya 22 orang yang selamat termasuk Che dan Fidel. Di saat inilah Che kemudian meninggalkan peralatan medisnya dan mengangkat senjata untuk bertempur. Dua puluh dua orang yang selamat ini kemudian masuk ke hutan dan membentuk pasukan pemberontakan gerilya di sana. Sikap mereka yang simpatik, membuat banyak penduduk Kuba simpatik dan secara diam-diam membantu perjuangan mereka. Bahkan banyak pula penduduk yang bergabung dalam pasukan pemberontakan itu. 


Perang berlangsung selama bertahun-tahun dan Che harus menjalaninya dengan penuh penderitaan karena asmanya sering kambuh. Pada saat perjuangan inilah namanya mulai dikenal dunia. Banyak wartawan yang rela masuk ke hutan hanya agar bisa mewawancarai pemberontak muda yang tampan dan pemberani ini. Banyak wanita yang jatuh hati padanya karena sosoknya yang ganteng, romantis, dan halus.

Sempat Bertemu Soekarno

Usaha pemberontakan akhirnya berhasil dan akhirnya pemerintahan Batitsa dapat dijatuhkan. Fidel naik sebagai presiden dan Che mendapat jabatan sebagai menteri. Tetapi hatinya selalu tertarik dengan petualangan dan baginya Kuba bukanlah akhir dari perjuangan. Masih banyak tempat di Amerika Selatan yang masih tertindas. Dengan memanfaatkan posisinya, Che pergi mengelilingi dunia untuk menggalang kesatuan melawan negara-negara kapitalis. Ia bahkan sempat ke Indonesia dan bertemu presiden Soekarno. 


Tetapi semua ini tidak membuat Che puas. Ia yakin bahwa perjuangan membebaskan negara-negara tertindas tak akan dapat dilakukan secara politik. Akhirnya ia meninggalkan jabatan menterinya dan pergi berperang di negara mana saja yang sedang tertindas. Petualangannya berakhir saat ia tertangkap di Bolivia pada tahun 1967.

Matipun Che Disegani

Saat itu CIA menganggapnya sangat berbahaya dan mengerahkan seluruh tenaga untuk bisa menangkapnya. Che tertangkap dan dikurung dalam sebuah kelas di sekolah terpencil, di situ ia dieksekusi dan kedua tangannya dipotong. Bahkan saat ia matipun, orang masih takut kepadanya sehingga tangannya harus dipotong. Kata-kata terakhir saat ia akan ditembak adalah “Tembaklah, kau hanya membunuh seorang laki-laki.” Ketika selesai dieksekusi, jenazah Che dikubur di sebuah tempat rahasia, dan baru pada tahun 1997 kuburannya dibongkar dan dipindahkan ke Kuba.


Semasa hidupnya ia adalah orang yang romantis, suka bersahabat, dan bercanda. Banyak orang menuduhnya sebagai teroris dan pengacau, bahkan menuduhnya sebagai pembantai. Tetapi itu semua dilakukan Che di dalam kondisi perang, banyak sekali kata-kata dan perbuatannya yang kemudian membuatnya bahkan dianggap santa bagi para petani miskin di Amerika selatan. Bahkan setiap pagi, anak-anak sekolah di Kuba mengucapkan kata-kata “Kami akan seperti Che” di dalam kelas. Kuba pun menjadi negara yang nomer satu dalam hal pelayanan kesehatan dan pendidikan.


 
Sumber

0 comments:

Post a Comment